Salam Tribun
Rupiah Melemah: Dolar tak Ada di Desa
Dampak krisis ekonomi global akibat konflik Iran vs AS membuat harga bahan bakar minyak (BBM) naik dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah.
Penulis: Sumarsono | Editor: Rita Noor Shobah
Oleh: Sumarsono, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim/TribunKaltim.co
DAMPAK krisis ekonomi global akibat konflik Iran vs Amerika Serikat membuat harga bahan bakar minyak (BBM) naik dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat makin lemah.
Sejumlah kalangan, ekonom dan pelaku usaha menyebut, rupiah yang terus melemah hingga titik terendah, 17.602,95 per Minggu (17/5) kemarin dikhawatirkan bisa memicu krisis ekonomi di negeri ini.
Namun, Presiden Prabowo Subianto menepis kekhawatiran tersebut.
Presiden tetap optimistis, meski nilai tukar rupiah anjlok sangat dalam, perekonomian Indonesia tetap aman.
"Saya yakin sekarang ada yang selalu sebentar-sebentar "Indonesia akan collapse, akan chaos"... Orang rakyat di desa enggak pake dolar kok," kata Presiden Prabowo saat peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5).
"Mau dolar berapa ribu kek, kalian di desa-desa nggak pakai dolar," tambahnya.
Orang nomor 1 di Republik Indonesia ini juga memastikan bahwa kondisi fundamental Indonesia masuk kuat, meskipun pelemahan mata uang rupiah jelas berdampak pada kalangan yang bertransaksi menggunakan dolar.
Bisa jadi benar “omon-omon” Presiden, bahwa masyarakat pedesaan tidak mengenal dolar.
Secara kasat mata, yang terdampak anjloknya nilai tukar rupiah, hanyalah kelompok masyarakat yang memiliki aktivitas ekonomi internasional.
Baca juga: 5 Pernyataan Prabowo soal Rupiah Anjlok: Sebut Warga Desa Tak Pakai Dolar, Sentil Titiek Soeharto
Dampak terbesar pelemahan rupiah akan dirasakan pada transaksi bahan baku industri, perjalanan luar negeri, hingga sektor usaha yang menggunakan komponen impor dalam jumlah besar.
Benarkah, masyarakat desa tidak terpengaruh merosotnya rupiah?
Kalau ditanya, apakah orang desa menggunakan dolar, tentu jawabnya tidak.
Namun, masyarakat desa, para petani sangat terdampak ketika dolar naik.
Karena komponen utama pupuk non-subsidi dan pestisida diproduksi menggunakan bahan baku impor yang dibeli dengan dolar.
Saat rupiah anjlok, biaya produksi pertanian melonjak drastis.
Petani dipaksa modal besar, namun harga jual panen mereka sering kali ditekan oleh tengkulak atau pasar yang kebanjiran komoditas impor.
Bagi ibu-ibu di desa, mereka tidak peduli berapa kurs dolar terhadap rupiah hari ini, yang mereka peduli adalah mengapa harga minyak goreng, tempe, dan mi instan tiba-tiba naik.
Ketika rupiah melemah, "inflasi yang diimpor" (imported inflation) ini menyelinap masuk ke dapur-dapur desa melalui barang-barang kebutuhan pokok harian.
Waspadai Dampak Impor
Pengamat Ekonomi Universitas Borneo Tarakan Dr Margiyono memberikan perspektif berbeda terkait melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar yang saat ini telah melampaui Rp17 ribu.
Menurutnya nilai tukar rupiah atas dolar naik tidak berdampak selama stok pangan tersedia berdampak inflasi stabil. Namun yang perlu diwaspadai adalah dampaknya terhadap impor.
Kondisi ekonomi saat 1998 dan 2026 memang berbeda.
Kemampuan ekonomi saat ini menghadapi pelemahan rupiah cukup kuat.
Saat krisis monetar 1998, rupiah berada pada kisaran Rp16.000 lebih. Dan diwarnai beberapa variabel ekonomi yang memang boleh dikatakan relatif berisiko atau rapuh.
Sementara kondisi saat ini, meskipun rupiah berada pada level Rp17.000-Rp17.600-an, pertumbuhan ekonomi positif yaitu 5,61 persen.
Sehingga jika inflasi inti itu terus terjaga artinya tidak ada persoalan dengan pangan karena produksinya terus berjalan sementara permintaannya juga terus berjalan.
Tekanan terhadap mata uang itu tidak hanya dialami oleh rupiah, tetapi hampir semua mata uang terhadap dolar.
Nah berbeda tadi kalau pada krismon (krisis moneter) tahun 1998 kan hanya Indonesia dengan Thailand.
Seperti yang disampaikan Presiden, dolar dalam kondisi apapun dolar itu selalu menguat.
Jadi misalnya kondisinya saat ini ekonomi Amerika itu juga tidak baik-baik saja.
Mengapa dolar menguat? Karena sebenarnya itu kalau kita pahami dalam perspektif yaitu persepsi begitu, jadi ekonomi itu sebenarnya walaupun itu adalah angka-angka dan semuanya adalah kejadian real, tetapi dalam pondasi tertentu ekonomi itu ia berdiri atau berada di atas persepsi.
Nah persepsinya orang seluruh muka bumi atau global sekarang itu menganggap dolar itu kuat.
Namun dalam hal ini, memang ada dampak negatifnya yang dirasakan bahwa jika nilai rupiah melemah berarti harga barang impor menjadi lebih tinggi.
Dan itu yang mesti diwaspadai karena jika tidak diwaspadai maka nanti akan mengakibatkan impor barang menjadi mahal, sehingga akan mengerek harga untuk produk-produk yang menggunakan impor resort-oriented.
Rupiah bisa saja melemah, tapi fundamental ekonomi Indonesia saat ini diyakini masih kuat.
Percayalah “omon-omon” Presiden Prabowo: Rakyat di pedesaan tidak mengenal dolar..! (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250414_Sumarsono-Pemimpin-Redaksi-Tribun-Kaltim.jpg)