Selasa, 19 Mei 2026

Opini

Menjaga Rupiah di Tengah Badai Global: Bukan Sekedar Urusan Suku Bunga

Ketika badai ekonomi global mulai mengguncang, perhatian publik kerap kali langsung tertuju pada satu tempat: ruang rapat Bank Indonesia

Tayang:
Editor: Nur Pratama
Kompas.com/Nurwahidah
Ilustrasi rupiah. 

Langkah BI yang aktif melalui intervensi di pasar spot maupun instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) patut diapresiasi. Namun, dalam jangka panjang, intervensi cadangan devisa memiliki batas. BI perlu memperkuat bauran kebijakan yang lebih fundamental.

Pertama, optimalisasi instrumen pro-market seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) harus terus dilakukan untuk menjaga daya tarik aset domestik tanpa mengganggu likuiditas perbankan secara berlebihan. Kedua, diversifikasi mata uang melalui Local Currency Settlement (LCS) bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan. Dengan memperluas transaksi dagang menggunakan mata uang lokal dengan negara mitra, kita secara perlahan dapat memutus rantai ketergantungan absolut terhadap Dolar AS.

Sinergi dan Narasi Kepercayaan

Stabilitas nilai tukar tidak bisa hanya menjadi beban di pundak otoritas moneter. Diperlukan sinergi yang kohesif antara kebijakan moneter dan fiskal. Belanja pemerintah harus diarahkan untuk memperkuat sektor riil, mempercepat hilirisasi, dan menciptakan substitusi impor yang efektif. Jika struktur neraca perdagangan membaik secara fundamental, Rupiah akan memiliki "imunitas" yang lebih kuat.

Di sisi lain, strategi komunikasi BI memegang peranan krusial sebagai anchor of confidence. Di era digital, satu informasi simpang siur bisa memicu spekulasi masif. BI perlu membangun narasi yang lebih membumi. Masyarakat dan pelaku usaha perlu diyakinkan bahwa fundamental ekonomi kita, mulai dari pertumbuhan yang stabil hingga inflasi yang terkendali, tetap resilien.

Komunikasi yang transparan mengenai arah kebijakan (forward guidance) akan mengurangi ketidakpastian pasar. Ketika pasar memahami rencana besar bank sentral, spekulasi akan berkurang, dan ekspektasi akan lebih terjangkar.

Menjaga Rupiah adalah kerja kolektif. Akademisi memiliki peran penting untuk memberikan edukasi objektif kepada publik bahwa fluktuasi nilai tukar adalah hal yang wajar di pasar terbuka. Namun, penguatan struktur ekonomi domestik melalui sinergi kebijakan dan kepercayaan masyarakat terhadap mata uang sendiri adalah benteng pertahanan yang sesungguhnya. Jika kita mampu memperbaiki struktur dari dalam, badai dari luar sehebat apa pun tidak akan mampu merobohkan bangunan ekonomi kita.

"Jangan hanya bicara apa yang dilakukan, tapi mengapa itu dilakukan."

Penguatan komunikasi harus bergeser dari sekadar pengumuman hasil rapat (reaktif) menjadi pembentuk opini pasar (proaktif). Misalnya, saat BI memutuskan menahan suku bunga di tengah tekanan kurs, narasinya harus kuat pada aspek "menjaga daya tarik aset domestik" sekaligus "memastikan momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga."

Pada akhirnya, kita harus sadar bahwa Rupiah bukan sekadar simbol transaksi, melainkan cerminan dari daya tahan fundamental ekonomi bangsa. Menjaga stabilitasnya di tengah badai global tidak bisa lagi menggunakan cara-cara konvensional yang bersifat pemadam kebakaran. Bank Indonesia tidak boleh dibiarkan bekerja sendiri di garda depan dengan hanya bersenjatan instrumen suku bunga.

Diperlukan keberanian pemerintah untuk membenahi struktur industri, memperkuat hilirisasi, serta konsistensi dalam menjaga iklim investasi dan daya beli domestik. Badai global mungkin tidak akan mereda dalam waktu dekat, namun dengan fondasi ekonomi yang kokoh dan bauran kebijakan yang tepat, Rupiah tidak hanya akan bertahan, Rupiah akan tetap tegak berdiri sebagai simbol kedaulatan ekonomi yang disegani. (*)

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved