Selasa, 19 Mei 2026

Opini

Menjaga Rupiah di Tengah Badai Global: Bukan Sekedar Urusan Suku Bunga

Ketika badai ekonomi global mulai mengguncang, perhatian publik kerap kali langsung tertuju pada satu tempat: ruang rapat Bank Indonesia

Tayang:
Editor: Nur Pratama
Kompas.com/Nurwahidah
Ilustrasi rupiah. 

Oleh:

Dr. Ana Sriekaningsih.,S.E.,M.M

Direktur Politeknik Bisnis Kaltara

Anggota Forum Komunikasi Akademisi Penulis Populer Kebijakan BI

 

TRIBUNKALTIM.CO - Ketika badai ekonomi global mulai mengguncang, perhatian publik kerap kali langsung tertuju pada satu tempat: ruang rapat Bank Indonesia.

Semua mata menanti dengan cemas apakah suku bunga acuan akan dinaikkan demi menyelamatkan nilai tukar Rupiah. 

Namun, mengandalkan suku bunga sebagai satu-satunya tameng di tengah ketidakpastian geopolitik, inflasi dunia, dan fluktuasi harga komoditas ibarat mencoba menahan air bah hanya dengan selembar papan kayu.

Suku bunga memang instrumen moneter yang ampuh, tetapi fluktuasi Rupiah saat ini bukan sekadar masalah angka di atas kertas bank sentral.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp17.645 per Dolar AS, Purbaya Minta Publik tak Samakan dengan 1998

Menjaga stabilitas mata uang Garuda di era modern adalah perang multidimensi yang membutuhkan sinergi lebih luas, mulai dari ketahanan sektor riil hingga reformasi struktural yang mendalam.

Nilai tukar Rupiah belakangan ini kembali berada dalam sorotan tajam. Tekanan demi tekanan terus menghantam mata uang garuda, memaksa Bank Indonesia (BI) bekerja ekstra keras di pasar valas. Namun, jika kita membedah anatomi gejolak ini, pertanyaan mendasar muncul: apakah ini murni badai dari luar, atau ada "penyakit bawaan" dalam struktur ekonomi kita yang membuatnya mudah demam?

Diagnosis "Double Hit"

Secara objektif, tekanan yang dialami Rupiah didominasi oleh faktor eksternal yang masif. Kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat yang bertahan lebih lama dari perkiraan (higher for longer) serta eskalasi geopolitik di Timur Tengah telah memicu sentimen risk-off. Investor global cenderung menarik modalnya dari pasar negara berkembang untuk menyelamatkannya ke aset aman seperti Dolar AS dan emas.

Namun, faktor eksternal hanyalah pemantik. Kayu bakarnya adalah masalah struktural domestik. Ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor serta pasar keuangan yang kurang dalam (shallow financial market) membuat Rupiah rentan terhadap aksi ambil untung jangka pendek. Inilah fenomena double hit yang harus kita mitigasi bersama.

Melampaui Intervensi Konvensional

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved