Opini
Jurnalisme dan Ketahanan Informasi
Kritik terhadap media disampaikan demi menjaga independensi pers dan ketahanan informasi publik
Sebuah berita setidaknya terdapat tiga lapis makna: mikro, meso, dan makro. Pada lapis pertama, level mikro (teks), kita membedah anatomi terkecil sebuah berita. Pilihan kosakata, tata bahasa, hingga struktur kalimatnya. Dari sinilah kita tahu bagaimana media memainkan kata membangun bias makna.
Pada lapis kedua, level meso (praktik diskursus), kita membongkar proses di dapur redaksi. Bagaimana sebuah berita diproduksi oleh jurnalis, bagaimana teks itu disebarkan, dan bagaimana akhirnya dikonsumsi dan ditafsirkan oleh pembaca. Kita bisa menduga apakah ada titipan ideologi atau kepentingan terselubung.
Lapis ketiga, di level makro (praktik sosiokultural). Ini merupakan lapisan terluar yang krusial. Analisis makro melihat hubungan antara teks berita dengan situasi sosial, budaya, dan konstelasi politik yang sedang terjadi di dunia nyata.
Berbekal tiga pisau analisis ini, mata pembaca akan benderang. Bagaimana sebuah teks diproduksi dan dikonsumsi di bawah kendali pengaruh ideologi serta syahwat kepentingan. Bahasa, pada akhirnya, tersaji dalam sebuah nilai kejujuran.
Ada lagi teori Tata Bahasa Fungsional Sistemik (SFL) dari Michael Halliday. Ini penting untuk melihat ‘tanggung jawab’ dibagi-bagi dalam struktur kalimat berita. Kita bisa tahu siapa yang sengaja ditaruh sebagai aktor aktif (pelaku). Siapa dijadikan target pasif (korban). Dalam berita politik yang tidak objektif, tendensi manipulatif dapat kita identifikasi melalui tiga indikator kebahasaan.
Pertama, Strategi Leksikalisasi (Permainan Diksi): Memakai kata bermuatan emosi tinggi untuk membingkai figur tertentu. Contoh mudah: kebijakan seorang kandidat yang belum matang disebut ‘terobosan jenius," tapi kesalahan kecil dari kepemimpinan langsung dilabeli ‘skandal fatal’.
Kedua, Struktur Sintaksis dan Agensi (Gaya Halliday): Kalimat pasif sengaja dipakai untuk menyembunyikan siapa pelaku utamanya. Misalnya: "Anggaran daerah dilaporkan menyusut." Sebaliknya, kalimat aktif dipakai secara agresif untuk menyudutkan pihak tertentu.
Ketiga, Praktik Semiotik (Teori Roland Barthes): Ini soal bagaimana teks dikawinkan dengan foto atau infografis. Barthes bicara tentang denotasi, konotasi, dan mitos. Di media yang partisan, foto seorang pemimpin bisa saja diambil dari sudut rendah (low angle) dengan lampu agak temaram. Konotasinya? Biar kelihatan sebagai ‘pemimpin yang lemah’ atau ‘otoriter’. Tanda visual begini kerjanya halus. Visual jauh lebih cepat membangun stigma di alam bawah sadar pembaca.
Pemerintah dan Media Harus Sinergi secara Sehat
Kita harus jujur. Fakta bahwa lanskap ekonomi media sudah berubah. Media kesulitan berjalan hanya dari penjualan koran cetak. Kehidupan media dalam ekosistem digital memang luar biasa berat dan kejam.
Dapur redaksi, salah satunya, bergantung pada klik berita. Berburu iklan digital. Opsi lainnya, kerja sama publikasi resmi dengan pemerintah atau swasta. Nah, di sinilah letak titik rawan itu. Ketika anggaran kerja sama seret atau justru dilenyapkan, media dalam situasi kritis. Situasi ini rawan dimanfaatkan oleh aktor-aktor dengan narasi pesanan. Akhirnya apa? Keruntuhan Independensi media.
Baca juga: Rupiah Melemah: Dolar tak Ada di Desa
Pemerintah, khususnya di daerah, seharusnya bijak. Solusinya bukan menjauhi media. Silakan gandeng media secara profesional. Media punya peran sentral sosialisasi dan publikasi program pembangunan. Sinergi ini penting agar publik memahami arah pembangunan dengan baik.
Ingat, tujuannya bukan untuk membeli suara media agar ‘menjilat’ pemerintah. Bukan. Tujuannya mulia, akselerasi transparansi informasi.
Kalau informasi pembangunan tersampaikan dengan baik melalui media resmi, disinformasi akan kehilangan panggung. Hubungan ini wajib diletakkan dalam ruang kemitraan yang sehat. Pemerintah memfasilitasi keterbukaan informasi. Media menjaga nalar kritis tanpa harus bersikap destruktif.
Pentingnya ‘Ketahanan Informasi’
| Menjaga Rupiah di Tengah Badai Global: Bukan Sekedar Urusan Suku Bunga |
|
|---|
| Jas Krem di Tengah Lautan Jas Gelap |
|
|---|
| QRIS: Dari Nusantara Hingga China, Fondasi Institusional Dari Tren Menuju Transformasi Struktural |
|
|---|
| Presensi Bodong: Perlunya Menjaga Kewarasan Moral |
|
|---|
| Hari Palang Merah Dunia: Terjadi Degradasi Nilai Kemanusiaan? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260503_Ali-Kusno-Ilmu-Hukum-Universitas-Terbuka.jpg)