Rabu, 3 Juni 2026

Opini

Risiko Devisa Hasil Ekspor dan Hilangnya Marwah Kalimantan Timur

PT Danantara Sumber Daya Indonesia atau DSI telah sah sebagai BUMN baru di bawah anak usaha Danantara dan resmi beroperasi sejak awal Juni 2026. 

Tayang:
Editor: Sumarsono
TRIBUNKALTIM.CO/IST/TribunKaltim.co
PENULIS: Adi Prihanisetyo, Dosen STIE Madani Balikpapan/Pemerhati Tata Kelola dan Manajemen Risiko 

Namun di balik itu semua, ternyata pertambangan batu bara secara riil justru mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi sebesar -0,11 persen. Secara angka kecil, tapi imbasnya nyata.

Hal ini tidak terlepas dari pola konsumsi pekerja tambang di Kota Samarinda dan Balikpapan yang royal membelanjakan uangnya selepas mereka memperoleh waktu libur (off) dari perusahaannya. 

Pekerja tambang batu baru adalah profesi unik, siklus kerja mereka enam bulan bekerja, dua minggu off. Selama enam bulan mereka bekerja dengan disiplin, fokus pada target dan keselamatan. 

Bisa dipastikan, gaji enam bulan tersebut utuh karena seluruh sandang pangan papan pekerja tambang umumnya disediakan oleh perusahaan, karena pekerja tambang tinggal di tempat yang jauh dari perkotaan. 

Mau beli di mana di tengah hutan? Ini sebab gaji mereka aman.

Uang gaji itu baru dibelanjakan, ketika mereka off. Sudah di kota, bertemu dan berkumpul bersama keluarga, menghabiskan waktu di pusat-pusat perbelanjaan yang tersebar di Samarinda dan Balikpapan.

Seringkali mereka boros dan royal, tidak salah, karena selama 6 bulan, mereka dipaksa oleh keadaan untuk mengekang keinginan mereka, dan ketika berada di kota, itu adalah waktu untuk “membalas dendam”. 

Itulah mengapa Samarinda dan Balikpapan bisa dikatakan sebagai wajah yang mewakili kehidupan metropolitan. Perekonomian lebih semarak dibandingkan kota lain di Kaltim.

Kehadiran pekerja tambang, telah membuka banyak pintu usaha lainnya, bagi penduduk sekitar dan tak sedikit dealer kendaraan mendapatkan kejutan dari transaksi pembeli unit kendaraan. 

Singkatnya, perputaran uang tunai instan dari gaya hidup konsumtif pekerja tambang inilah yang mendongkrak urat nadi ekonomi ritel dan jasa di kota Samarinda dan Balikpapan.

Tapi di tengah geliat masifnya pertumbuhan ekonomi kota Samarinda dan Balikpapan, terselubung sebuah risiko. 

Tambang adalah industri ekstraktif, sangat tergantung pada alam dan fluktuasi harga jual produknya, baik di tingkat domestik maupun internasional. 

Saat cadangan tambang menyusut, pengurangan permintaan hingga regulasi yang tidak pasti maka otomatis akan berdampak pada perekonomian di Samarinda dan Balikpapan

Data BPS mendapati, pertambangan batu bara dan migas secara riil telah mengalami kontraksi pertumbuhan negatif sebesar -0,11 persen, imbas penurunan volume ekspor global dan tuntasnya Proyek Strategis Nasional (PSN) RDMP di Balikpapan.

RDMP atau Refinery Development Master Plan adalah mega-proyek revitalisasi dan modernisasi kilang minyak eksisting milik PT Pertamina (Persero) untuk meningkatkan kapasitas, fleksibilitas pengolahan minyak mentah (crude), dan kualitas produk BBM menjadi standar Euro V.

Baca juga: Respons GAPKI Kaltim Soal Ekspor Sawit Lewat Danantara: Pemerintah–Swasta Perlu Kolaborasi

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved