Kamis, 4 Juni 2026

Opini

KPC dan Dilema Transparansi Informasi

Kecelakaan kerja yang berujung meninggalnya karyawan, kembali terjadi di tambang PT Kaltim Prima Coal ( KPC ) pada 29 Mei silam. 

Tayang:
Editor: Sumarsono
TRIBUNKALTIM.CO/HO/Tribun Kaltim
PENULIS - Dr. Zulfatun Mahmudah, S.Pd, M.I.Kom, CSRS adalah peneliti, praktisi, dan pemerhati komunikasi korporasi. 

Di era serbamedia saat ini, menyembunyikan informasi ke publik adalah hal yang sangat tidak mungkin dilakukan. 

Setiap individu terkoneksi dengan individu lainnya dengan dimediasi oleh berbagai teknologi komunikasi. 

Baca juga: POPULER KALTIM: Momen Prabowo Sapa Sultan Kutai Kartanegara, Karyawan KPC Terseret Arus Deras

Oleh karena itu, menutup rapat informasi dengan aturan ketidakbolehan menyebarkan memorandum, bisa jadi sudah tidak tepat lagi dilakukan di era digital saat ini. 

Sebab, memorandum itu sendiri disebarkan via email yang bisa dibuka oleh siapa saja dan dimana saja. 

Contoh sederhananya, ketika email tersebut terkoneksi di HP, dan HP tersebut dibuka oleh anggota keluarga, maka informasi akan tersebar tanpa adanya unsur kesengajaan.

Selain persoalan piranti teknologi, informasi insiden yang terjadi di dalam area pertambangan sekalipun, sejatinya tidak mungkin ditutupi. 

Sebab, jenazah karyawan tersebut sudah pasti akan dibawa ke keluarganya dan dimakamkam secara terbuka. 

Situasi tersebut menjadi perhatian sekaligus pembicaraan publik, tanpa harus membaca berita. 

Pemandangan tersebut secara otomatis akan menggiring pikiran publik untuk mencari tahu apa sesungguhnya yang terjadi. 

Dalam situasi tersebut, langkah apa yang sesungguhnya lebih bijak diambil? 

Meningkatkan fungsi public relations dan public communication menjadi salah satu solusi. 

Sudah saatnya perusahaan kelas dunia seperti KPC, menerapkan empathetic attentive communication style. 

Sebuah gaya komunikasi yang menggabungkan kecepatan respons, keterbukaan data, dan pengelolaan emosi publik secara simultan. 

Sebab, di era hiperkrisis saat ini, organisasi (baca: korporasi) tidak lagi terutama dinilai dari fakta yang dimilikinya, tetapi dari gaya komunikasinya: bagaimana ia berbicara, hadir, dan mengelola emosi publik

Korporasi harus mampu mengendalikan informasi. Membiarkan pihak lain yang menjadi sumber informasi media, bisa berdampak pada tidak tepatnya informasi yang tersebar. 

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved