Opini
KPC dan Dilema Transparansi Informasi
Kecelakaan kerja yang berujung meninggalnya karyawan, kembali terjadi di tambang PT Kaltim Prima Coal ( KPC ) pada 29 Mei silam.
Dalam kasus berita fatality ini, KPC masih diuntungkan oleh tidak adanya kesalahan informasi yang tersampaikan. Sebab, jurnalis bersumber pada memorandum yang bisa dijamin kebenarannya.
Baca juga: Insiden Kecelakaan Kerja di KPC Sangatta Kutai Timur, Manajemen Berkomitmen Tanggungjawab
Dalam konteks tersebut, bocornya memorandum bisa dilihat sebagai hal positif, meski dalam konteks aturan main internal korporasi, hal itu dinilai sebagai sebuah pelanggaran.
Bisa jadi, informasi akan lebih berbahaya jika awak media menulis berita dari sumber yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Kekeliruannya, bukan pada dari mana sumber tulisan diperoleh. Ketidakhadiran pihak korporasi untuk menyampaikan informasi, telah memaksa publik mencari tahu sendiri tentang apa yang telah terjadi.
Belajar dari Kasus Air Asia
Kebocoran memorandum fatality KPC juga memberikan pembelajaran pentingnya manajemen isu dan krisis.
Dalam setiap isu dan krisis yang terjadi, bagian komunikasi korporasi tidak seharusnya sekedar menjadi pemadam kebakaran, ketika informasi sudah beredar secara liar.
Hal tersebut hanya bisa dihindari jika korporasi memiliki perencanaan komunikasi (baca: communication blue print) yang jelas dan terukur.
Dalam blue print tersebut, salah satunya mengatur bagaimana komunikasi publik dilakukan ketika terjadi insiden.
Membuat pernyataan resmi terkait insiden sesegera mungkin, menjadi penting agar isu tidak liar dan berpotensi mengancam reputasi.
Jika tahap awal belum memungkinkan menggandeng media, korporasi bisa memanfaatkan media internal yang dimiliki.
Informasi awal yang dikeluarkan, cukup bersifat hal pokok terkait terjadinya insiden, bahwa investigasi sedang dilakukan, dan yang terpenting adalah langkah penanganan dan kepedulian terhadap korban juga tersampaikan.
Keterbukaan informasi ini akan menjadi penilaian tersendiri, bahwa nilai transparansi bukan sekedar slogan yang menghiasi dinding dan tertulis rapi dalam lembaran laporan tahunan korporasi.
Baca juga: BREAKING NEWS: Insiden Maut di Area Tambang KPC Kutai Timur, Karyawan Tewas Terseret Arus Deras
Kita bisa belajar dari kasus kecelakaan Air Asia QZ8501 yang terjadi 2014 silam. Dalam kondisi tersebut, CEO Air Asia, Tony Fernandes menerapkan manajemen komunikasi krisis yang transparan.
Pernyataannya selalu menegaskan bertanggungjawab penuh dan fokus pada penanganan korban dan keluarganya.
Kehadirannya secara fisik dan perasaan di tengah keluarga korban, menjadi berita tersendiri.
Alih-alih membela diri, menelusur siapa yang salah pun tidak pernah dilakukannya. Selain itu, ia memosisikan dirinya sebagai pengendali informasi.
Air Asia tidak membiarkan informasi menjadi liar, dengan terus memperbaharui perkembangan yang terjadi, baik ke awak media maupun keluarga korban.
Langkah tersebut terbukti membawa opini positif terhadap Air Asia, meski tragedi itu merenggut nyawa semua penumpangnya.
Kasus Air Asia memberikan pembelajaran penting tentang gaya komunikasi. Meski Air Asia adalah industri yang berbeda, namun transparansi komunikasi menjadi hal krusial bagi semua industri.
Sebagai industri yang tidak pernah bisa dilepaskan dari isu, persoalan komunikasi justru menjadi sangat penting di pertambangan.
Sangat disayangkan, jika sebuah korporasi bisa menerapkan aturan main dengan baik di semua lini, seperti produksi, safety, lingkungan dan hubungan industrial, harus tercabik-cabik reputasinya.
Semua hanya karena lini komunikasi tidak mampu menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi. (*)
*) Penulis adalah peneliti, praktisi, dan pemerhati komunikasi korporasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/zul-KPC.jpg)