Fakta Lain di Balik Jembatan Kukar Ambruk 2011 Lalu, Roboh Hanya dalam 20 Detik, Puluhan Orang Tewas
Ada sejumlah fakta lain di balik peristiwa jembatan Kukar ambruk tahun 2011 silam
11. Tanpa jembatan, warga andalkan perahu untuk penyeberangan
ILUSTRASI Perahu Tambangan di Sungai Mahakam
Setelah jembatan lama runtuh, warga Kukar praktis hanya mengandalkan kapal penyeberangan gratis dan kapal kecil berbayar untuk menyeberangi Sungai Mahakam.
Sejumlah pemilik perahu penyeberangan yang menghubungkan Mangkurawang, Kota Tenggarong, ke Desa Loa Pari, Tenggarong Seberang, panen rezeki pasca-ambruknya Jembatan Kartanegara, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
"Dalam satu hari, ada sekitar 50 kali kapal kayu yang kami jalankan pulang pergi untuk menyeberangkan mobil," ujar Nurruddin saat ditemui di atas kapal penyeberangan di Tenggarong, Rabu (30/11/2011).
Nurruddin mengatakan, dalam sekali perjalanan, kapal yang memiliki panjang sekitar 15 meter itu hanya mampu memuat tiga hingga empat mobil dengan memungut biaya sebesar Rp 25.000 per mobil.
Jumlah perahu yang mampu menyeberangkan mobil tersebut ada dua unit, sedangkan yang mampu menyeberangkan sepeda motor berikut pengendaranya sekitar 10 perahu.
Khusus untuk perahu yang menyeberangkan mobil, penghasilan kotor yang diterima mencapai Rp 3,75 juta per hari, dengan asumsi setiap kali menyeberangkan minimal hanya memuat tiga mobil dikali Rp 25.000 per mobil, dikali 50 kali pulang pergi.
Ini berarti penghasilan total untuk dua kapal yang mampu menyeberangkan mobil mencapai Rp 7,5 juta per hari.
Namun, penghasilan itu masih harus dikurangi biaya operasional, upah pekerja, dan kebutuhan tak terduga lainnya.
Untuk mobil berukuran kecil, seperti sedan, kapal mampu memuat 4 unit. Namun, jika mobil berukuran agak panjang, seperti L-300 ataupun truk, kapal hanya mampu menampung tiga unit.
Sebelum Jembatan Kutai Kartanegara runtuh, lanjut Nurruddin, kapalnya melayani penyeberangan di Hulu Mahakam, tepatnya di Desa Belayan dan Gunung Sari.
Namun, intensitas kendaraan yang menyeberang di tempat itu masih sedikit karena jumlah penduduknya juga tidak banyak.
"Semula kami kaget dan agak ragu diminta ke Tenggarong untuk menyeberangkan mobil. Namun, karena katanya banyak mobil yang butuh diseberangkan, kami harus meluncur. Hitung-hitung membantu warga yang ingin menyeberang," ujar Nurruddin.