Berita Nasional Terkini

Omicron jadi Varian Baru Covid-19 yang Mematikan, Ganggu Target Indonesia 2030 Bebas AIDS

Omicron jadi Varian Baru Covid-19 yang mematikan, ganggu target Indonesia 2030 bebas AIDS.

covid19.go.id
Ilustrasi Covid-19, Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin memprediksi Covid-19 varian delta kini mengancam 7 Provinis di luar Jawa 

TRIBUNKALTIM.CO - Di situasi pandmei Covid-19 yang melandai, kembali muncul varian baru.

Namanya adalah Omicron.

Kalangan kesehatan menyatakan bahwa varian baru Covid-19 lebih mematikan dari sebelumnya,

Tak hanya berdampak jangka pendek, kehadiran varian Omicron juga punya dampak panjang.

Menurut Ketua Sekretariat Nasional Jaringan Indonesia Positif Meirinda Sebayang varian Omicron bisa menghambat target Indonesia 2030 bebas Aids.

Informasi selengkapnya ada dalam artikel ini.

Baca juga: Bahaya Virus Corona Varian Omicron, Berbeda dari Gejala Covid-19 Lain, Kebal Vaksin?

Baca juga: INILAH Cara dan Syarat Naik Kapal Pelni ke Daerah PPKM Level 1 - 4 Meski Belum Vaksin Covid-19

Baca juga: Cegah Lonjakan Sebaran Covid-19 saat Libur Nataru, Pemkab PPU akan Terapkan Aplikasi PeduliLindungi

Dilansir Tribunnews.com dengan judul Muncul Varian Omicron, Hambat Target Indonesia Bebas AIDS 2030, Indonesia menargetkan bebas AIDS pada tahun 2030. Di tengah bayang-bayang 1,5 tahun pandemi Covid-19 ini kian memperlambat target tersebut.

Bahkan menurut Ketua Sekretariat Nasional Jaringan Indonesia Positif Meirinda Sebayang, munculnya varian baru Omicron juga menambah daftar tantangan Indonesia bebas AIDS 2030.

"Untuk memastikan kita bisa mengakhiri AIDS tahun 2030 apalagi saat ini kami mendengar bahwa omicron sudah mulai masuk dan ini akan menjadi bayang-bayang lain yang akan berpotensi menghambat jalan kita dalam mengakhiri AIDD 2030 dan ini akan juga menyebabkan pandemi Covid-19 berlangsung kian lama," ujar Meirinda dalam kegiatan virtual, Selasa (30/11/2021).

Meirinda memaparkan, dalam studi yang dilakukan pihaknya pada Agustus 2020, dampak pandemi Covid-19 bagi penderita HIV/AIDS cukup signifikan.

Penyebaran berkelanjutan dari virus HIV dan juga virus Covid-19 bermuara pada ketidaksetaraan sosial, keterbatasan akses kesehatan termasuk permasalahan ekonomi serta pelanggaran hukum dan HAM yang dihadapi oleh komunitas orang dengan HIV termasuk di dalamnya ada kelompok rentan dan populasi seperti teman-teman pekerja seks, transgender teman-teman dari kelompok gay dan kelompok seks lain.

Baca juga: SEKARANG Anak di Bawah 12 Tahun Boleh Terbang, Syarat Naik Pesawat November 2021 Wajib Tes Covid-19

Serta membawa konsekuensi yang tidak terhitung bagi perempuan dan anak yang hidup dengan HIV.

"Sebenarnya bukan karena kurangnya informasi, bukan kurangnya akses terhadap pelayanan kesehatan, bukannya kurang komoditas pencegahan maupun pengobatan ARV, tapi karena ketidaksetaraan untuk mengakses layanan pencegahan dan pengobatan HIV," jelasnya.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Ditjen P2P Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi mengakui, tidak berjalannya upaya-upaya pencegahan dan pengendalian HIV menyebabkan tentunya akan ada peningkatan kasus infeksi baru.

Meski demikian hal ini bukan saja terjadi di Indonesia melainkan juga ditingkat global.

Saat pandemi, jumlah orang yang melakukan tes dan juga deteksi HIV terjadi penurunan, dikarenakan kegiatan mobile secara aktif itu tidak bisa dilakukan.

Kemudian, orang yang mungkin merasa dirinya beresiko HIV juga takut ke pelayanan kesehatan dikarenakan situasi pandemi.

"Infeksi baru bertambah 27.580 pada tahun 2020. Wrtinya orang yang baru terinfeksi kita deteksi di tahun 2020 bertambah 27.500 setiap tahunnya. Sebenarnya angkanya sudah turun jauh kalau kita bandingkan di tahun 2010 pada waktu itu sempat Indonesia itu fakta penambahan infeksi baru setiap tahunnya mencapai 48 ribu saat itu," kata Nadia. 

Baca juga: Waspada Varian Omicron, Pemerintah Larang Perjalanan Orang dari 8 Negara Ini ke Indonesia

Terbaru, Covid-19 varian Omicron mungkin memunculkan gejala yang berbeda dari virus corona varian-varian sebelumnya.

Dr Angelique Coetzee, ketua Asosiasi Medis Afrika Selatan (SAMA), mengatakan bahwa gejala Covid-19 varian Omicron "tidak biasa tetapi ringan" pada orang sehat mengutip Tribunnews.com dengan judul Gejala Covid-19 Varian Omicron, Dokter di Afrika Selatan Sebut 'Ringan tapi Tak Biasa'

Berbicara dalam sebuah wawancara dengan The Telegraph, Dr Coetzee menyebut bahwa pada pasien dengan omicron, gejalanya sangat berbeda dan sangat ringan dari yang pernah ia tangani sebelumnya.

Dr Coetzee menjelaskan: "Varian ini memicu penyakit ringan dengan gejala nyeri otot dan kelelahan selama satu atau dua hari."

"Sejauh ini, kami telah mendeteksi bahwa mereka yang terinfeksi tidak mengalami indra perasa atau pembau."

"Mereka mungkin sedikit batuk."

"Tidak ada gejala yang menonjol."

"Dari mereka yang terinfeksi, beberapa saat ini dirawat di rumah."

Gejala yang berbeda muncul dari varian yang berbeda.

Studi Gejala Covid telah mengungkapkan ada enam jenis "kelompok" gejala virus corona yang berbeda.

"Semua orang yang melaporkan gejala mengalami sakit kepala dan kehilangan penciuman, dengan berbagai kombinasi gejala tambahan pada waktu yang berbeda."

"Beberapa di antaranya, seperti kebingungan, sakit perut, dan sesak napas, tidak dikenal secara luas sebagai gejala Covid-19, namun merupakan ciri dari bentuk penyakit yang paling parah," tulis rilis dari penelitian tersebut.

Sementara itu, daftar gejala virus corona yang ditulis CDC yakni:

- demam atau kedinginan;
- batuk;
- sesak napas atau kesulitan bernapas;
- kelelahan;
- nyeri otot atau tubuh;
- sakit kepala;
- hilangnya rasa atau bau;
- sakit tenggorokan;
- hidung tersumbat atau pilek;
- mual atau muntah; dan
- diare.

Baca juga: NEWS VIDEO Cegah Omicron, Jepang Larang Pendatang Asing Masuk dari Seluruh Dunia

Fakta-fakta Omicron yang Perlu Diketahui

Mengutip Independent, berikut 4 hal yang perlu diketahui mengenai varian Covid-19 Omicron.

Apa Itu Varian Omicron?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menamai varian baru virus corona B.1.1529 sebagai "Omicron".

Pengumuman itu dikeluarkan pada hari Jumat di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa varian itu sangat menular dan dapat mengurangi kemanjuran vaksin.

Varian yang diturunkan dari garis keturunan B.1.1 ini "belum pernah terjadi sebelumnya" dan "sangat tidak biasa" dalam jumlah mutasinya.

B.1.1529 memiliki 32 mutasi yang terletak di protein lonjakannya, termasuk E484A, K417N dan N440K, yang bisa membantu virus lolos dari deteksi antibodi.

Mutasi lain, N501Y, tampaknya meningkatkan kemampuan virus untuk masuk ke sel kita, membuatnya lebih mudah menular.

Dari Mana Asalnya?

Varian Omicron ini pertama kali terdeteksi di Botswana pada 11 November, di mana tiga kasus kini telah dicatat.

Sementara itu di Afrika Selatan, di mana kasus pertama ditemukan pada 14 November, 22 kasus telah dicatat, menurut Institut Nasional untuk Penyakit Menular.

Lebih banyak kasus diperkirakan akan dikonfirmasi di negara itu ketika hasil pengurutan keluar.

Kasus tambahan telah diidentifikasi di Hong Kong, yang melibatkan seorang pelancong berusia 36 tahun.

Ia sempat tinggal di Afrika Selatan dari 23 Oktober hingga 11 November, lalu dites positif tiga hari kemudian saat menjalani karantina sekembalinya ke rumah.

Pada hari Jumat 26 November 2021, Eropa mencatat kasus pertama yang dikonfirmasi setelah infeksi dilaporkan di Belgia.

Ahli virologi Marc Van Ranst mentweet bahwa varian tersebut telah terdeteksi pada seorang pelancong yang kembali dari Mesir awal bulan November.

Para ilmuwan mengatakan bahwa varian tersebut memiliki lebih banyak perubahan pada protein lonjakannya daripada yang lain yang telah mereka lihat.

Ada dugaan bahwa penyakit itu mungkin muncul dari orang dengan gangguan kekebalan yang menyimpan virus untuk jangka waktu yang lama, mungkin seseorang dengan HIV/AIDS yang tidak terdiagnosis.

Baca juga: Sebut Tak Efektif Cegah Penularan Varian Omicron, WHO Kritik Negara yang Menutup Pintu untuk Afrika

Apakah Kebal Vaksin?

Protein lonjakan yang melapisi bagian luar virus corona memungkinkannya menempel dan masuk ke sel manusia.

Vaksin melatih tubuh untuk mengenali lonjakan ini dan menetralkannya, sehingga mencegah infeksi sel.

Ke-32 mutasi yang terdeteksi dalam protein lonjakan varian baru akan mengubah bentuk struktur ini, sehingga menimbulkan masalah bagi respons imun yang diinduksi oleh vaksin.

Mutasi ini dapat membuat protein lonjakan kurang dikenali oleh antibodi kita.

Akibatnya, mereka tidak akan seefektif menetralkan virus, yang kemudian dapat melewati pertahanan kekebalan dan menyebabkan infeksi.

Haruskah Kita Khawatir?

Para ilmuwan memiliki pendapat yang beragam tentang apakah kita harus khawatir tentang varian terbaru ini atau tidak.

Dr Tom Peacock, seorang ahli virologi di Imperial College London, memperingatkan bahwa varian itu bisa menjadi "perhatian nyata" karena terdapat 32 mutasi pada protein lonjakannya.

Namun, Profesor Francois Balloux, direktur Institut Genetika di University College London, mengatakan bahwa saat ini "tidak ada alasan untuk terlalu khawatir."

Melalui Twitter, Dr Peacock menulis bahwa varian "sangat, sangat harus dipantau karena profil lonjakan yang mengerikan" yang dapat berarti bahwa varian itu lebih menular daripada varian lain yang sudah ada.

Tetapi Dr Peacock mengatakan bahwa dia "berharap" variannya akan berubah menjadi salah satu dari "kluster aneh" saja dan tidak akan menular seperti yang ditakuti.

Sementara itu, Prof Balloux mengatakan bahwa "sulit untuk memprediksi seberapa menularnya varian ini sekarang."

Ia menjelaskan: "Untuk saat ini, varian itu harus dipantau dan dianalisis dengan cermat, tetapi tidak ada alasan untuk terlalu khawatir, kecuali jika frekuensinya mulai meningkat dalam waktu dekat." (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved