Horizzon
Merasionalisasi Dosa
Setiap ucapan selamat Idul Fitri, kita selalu menyambungnya dengan kalimat, mohon maaf lahir batin.
Penulis: Ibnu Taufik Jr | Editor: Syaiful Syafar
Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim
LEBARAN di Indonesia identik dengan budaya saling maaf memaafkan.
Setiap ucapan selamat Idul Fitri, kita selalu menyambungnya dengan kalimat, mohon maaf lahir batin.
Idul Fitri dari sisi bahasa memiliki makna kembali suci.
Bagi umat Islam, barangkali ini bisa diartikan sebagai kondisi bagaimana seorang muslim kembali dalam keadaan suci usai tuntas menjalankan puasa sebulan penuh.
Budaya saling memberi sekaligus meminta maaf boleh jadi sebagai optimasi agar kesucian atau bersih dari dosa ini juga termasuk dosa-dosa dalam hubungan antarmanusia.
Baca juga: 3 Kebohongan Paling Epic
Ingkar janji, mengecewakan orang lain, berbohong, dan semua perbuatan yang berkaitan dan merugikan orang lain barangkali akan lebih afdal jika kata maaf dan pengakuan bersalah itu dituturkan.
Atau boleh jadi Idul Fitri juga bisa dimaknai sebagai momentum yang baik untuk mendeklarasikan atau pengakuan sekaligus pengakuan proposal maaf atas sejumlah kesalahan yang bersifat akumulatif dan berulang.
Apa pun itu, budaya ini bagus untuk terus dipelihara, termasuk budaya ikutan lainnya, yaitu saling berkunjung ke kerabat termasuk budaya mudik yang ujungnya adalah deklarasi saling memaafkan.
Lega rasanya jika sebuah dosa sudah diakui dan kemudian dimintakan maaf.
Apakah dosa itu benar-benar dimaafkan dan dibersihkan dari catatan kita yang berkaitan dengan Tuhan, tentu semuanya kembali kepada Sang Khaliq.
Namun setidaknya, dalam hubungan antarmanusia, memiliki dosa atau rasa bersalah yang sudah diakui dan disampaikan, rasanya sudah plong.
Baca juga: Waktu Balas Dendam
Masih dalam sudut pandang arti bahasa, halal bihalal ini juga ada di bulan Syawal yang memiliki makna bulan peningkatan.
Setelah berpuasa, muslim yang menjalankan dalam keadaan kembali fitrah atau suci, lengkap dengan saling maaf memaafkan, maka di bulan Syawal kita dituntut untuk meningkatkan kualitas hidup.
Terkait dengan dosa, tentu kita berharap kesalahan yang pernah kita lakukan tidak terulang lagi jika kita berhasil memaknai bulan Syawal sebagai bulan peningkatan.
