Horizzon

Merasionalisasi Dosa

Setiap ucapan selamat Idul Fitri, kita selalu menyambungnya dengan kalimat, mohon maaf lahir batin.

Penulis: Ibnu Taufik Jr | Editor: Syaiful Syafar
DOK TRIBUNKALTIM.CO
Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim. 

Dalam hubungan antarmanusia, jika sebelumnya masih ada rasa iri, dengki, dan sifat sifat buruk lainnya, diharapkan untuk tak lagi terulang.

Jika dalam kehidupan kita sering berperilaku menyakiti orang lain, merendahkan orang dan berjalan dengan kecongkakan, kita juga berharap semua tak lagi terulang.

Baca juga: Netralitas yang Sudah Berubah Makna

Sayang, ada beberapa dosa yang tampaknya sangat mudah dirasionalisasi alias dibuat seolah-olah menjadi perbuatan yang rasional atau bisa diterima akal sehat.

Dalam psikologi rasionalisasi adalah mekanisme pertahanan (pertahanan ego) di mana alasan-alasan logis diberikan untuk membenarkan perilaku yang dimotivasi oleh dorongan naluri yang tidak disadari.

Secara sederhana, rasionalisasi adalah pembenaran atas sesuatu yang sebenarnya salah, namun dianggap seolah-olah menjadi sesuatu yang benar.

Rasionalisasi digunakan untuk mempertahankan diri dari perasaan bersalah, menjaga harga diri, dan melindungi diri dari kritik.

Rasionalisasi secara psikologi akan lebih mudah dilakukan pada perbuatan yang tidak menimbulkan efek langsung kepada persona.

Baca juga: Ironi Demokrasi Basa-basi

Contoh yang paling mudah dalam hal ini adalah korupsi.

Pelaku korupsi dilakukan oleh mereka yang memiliki kewenangan.

Rasionalisasi terhadap perilaku korupsi mudah dilakukan karena perilaku tersebut tidak berkait atau berimbas pada individu tertentu.

Mencuri uang negara yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kewenangan tidak secara langsung dihadapkan rasa bersalah pada orang-orang tertentu.

Pembenaran atau prasangka bahwa orang lain juga melakukan perilaku yang sama membuat perbuatan ini semakin mudah mendapatkan alasan pembenar alias rasionalisasi.

Baca juga: Plesiran Panjang Seorang Pensiunan

Sementara kita tahu, karakteristik masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang sangat korup.

Artinya orang cenderung akan berperilaku korupsi ketika ada kesempatan.

Ingat, korupsi tidak semata-mata pada memperkaya diri dengan mencuri uang rakyat lantaran kewenangannya.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved