Minggu, 26 April 2026

Horizzon

Meramu Adonan untuk Kue Pilkada Serentak 2024

Event yang kemudian kita kenal dengan Pilkada Serentak 2024 ini tentu menjadi opportunity sekaligus ujian bagi media mainstream.

Penulis: Ibnu Taufik Jr | Editor: Syaiful Syafar
DOK TRIBUNKALTIM.CO
Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim. 

Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim

PILKADA serentak sudah di depan mata. Pada 27 November 2024 ini seluruh kepala daerah di 37 provinsi dan 415 kabupaten/kota akan 'dikocok ulang'.

Semua gubernur, bupati, dan walikota akan dipilih ulang yang diselenggarakan serentak pada 27 November mendatang, kecuali Gubernur DI Yogyakarta (UU Keistimewaan DIY) dan Walikota di Daerah Khusus Jakarta.

Event yang kemudian kita kenal dengan Pilkada Serentak 2024 ini tentu menjadi opportunity sekaligus ujian bagi media mainstream.

Opportunity alias peluang lantaran selain sebagai pilar keempat demokrasi, media juga menjadi lembaga ekonomi alias bisnis yang tentu berharap memperoleh kue iklan dari gelaran politik ini.

Bersamaan dengan itu, Pilkada Serentak 2024 juga menjadi ujian penting dalam perjalanan panjang bisnis media.

Baca juga: Merasionalisasi Dosa

Kita tidak sedang bicara soal positioning media dalam gelaran politik ini.

Hampir pasti praktisi media akan menggunakan jargon netral atau independen sebagai mukaddimah ketika menjelaskan posisi media dalam setiap kontestasi politik.

Kita sedang bicara soal kemampuan sekaligus kekuatan media sehingga akan dianggap memiliki posisi tawar yang kuat untuk ikut 'berkeringat' di dalam kontestasi.

Kita tahu, kuat dan massifnya pertumbuhan sosial media secara pasti menggusur dominasi media mainstream.

Kita sudah dalam era di mana semua pemegang gadget adalah publisher.

Baca juga: Mengeja Kalimantan Timur dari Pulau Atas

Orang tak perlu menunggu edisi koran esok pagi untuk mengetahui peristiwa hari ini.

Bahkan kita tak perlu menunggu portal online terpercaya untuk memvalidasi dan kemudian memproduksi berita online terkait peristiwa aktual yang terjadi.

Saat media online tengah bersusah payah menvalidasi agar yang diproduksi adalah berita yang memenuhi kaidah jurnalistik, pemilik akun IG, Facebook, YouTube, Twitter, dan platform ‘terheboh’ Tiktok sudah mempublish secara real dan lengkap.

Ironisnya, media mainstream yang kebetulan tengah dalam keadaan tak baik-baik saja lantaran kelelahan menghadapi era disruption justru ikut terbawa suasana.

Media mainstream justru ikut menjadi 'pemulung' dengan memproduksi berita bersumber sosial media dan bahkan grup WhatsApp.

Baca juga: Kebenaran Baru dan Kegagalan Pers

Situasi inilah yang secara pelan dan pasti membunuh atau setidaknya mendegradasi kekuatan utama dari media mainstream yang bernama -Pengaruh.

Kue iklan

Ketika ruh media berupa pengaruh itu hilang atau setidaknya berkurang, lalu apa yang bisa ditawarkan oleh media untuk bisa memperoleh kue dalam Pilkada Serentak 2024 yang pemanasannya sudah mulai kita rasakan ini?

Masihkah kita dengan percaya diri akan menawarkan space atau milimeter kolom kepada kontestan di media kita?

Atau barangkali, masihkah kita percaya diri menawarkan kerja sama berita online berbayar kepada kontestan sambil dibumbui iming-iming menaikkan elektabilitas kepada calon?

Kita harus paham, para kontestan ini adalah mereka yang membutuhkan impact secara langsung terkait belanja iklan yang akan mereka keluarkan.

Mereka bukan pemasang iklan yang mengharapkan komisi sebagai benefit.

Baca juga: 3 Kebohongan Paling Epic

Mereka sedang tidak membelanjakan uang APBD yang formalitas belaka dan komisi justru menjadi benefit utama.

Mereka tengah berhitung soal esensi dan efisiensi uang yang akan dikeluarkan untuk belanja apa pun termasuk sosialisasi dalam kontestasi kali ini.

Inilah kenapa bisa dibilang Pilkada Serentak 2024 ini adalah ujian sekaligus rapor penilaian atas eksistensi dari media mainstream.

Beruntunglah beberapa media yang terus beradaptasi dengan teknologi.

Setidaknya mereka punya kreasi untuk menawarkan kerja sama menguatkan narasi dan tak sebatas jual kavling.

Baca juga: Raung Sirene Demokrasi dari Bulaksumur

Mereka bakal punya 'komoditas' baru untuk ditawarkan dalam meraih kue Pilkada.

Komoditas baru ini barangkali bakal menarik untuk dilirik oleh kontestan yang juga masih risih jika ada konten-konten dengan tone negatif yang cukup mengganggu yang diproduksi media mainstream. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved