Horizzon
Sirene Densus 88 di Depan Kejaksaan Agung
Tak bisa dihindari spekulasi yang menyebut bahwa aksi konvoi ini sebagai bentuk preasure dari Densus 88 setelah Kejaksaan Agung mulai membidik...
Penulis: Ibnu Taufik Jr | Editor: Syaiful Syafar
Hasilnya, kita kembali terusik dengan aksi konvoi dari sekelompok anggota polisi di gerbang Gedung Kejaksaan Agung Republik Indonesia.
Baca juga: Meramu Adonan untuk Kue Pilkada Serentak 2024
Belasan sepeda motor dan kendaraan taktis berkeliling sambil menyalakan sirene dan rotator plus menggeber-geber gas dan memperlambat laju mereka di depan Kejaksaan Agung.
Tak bisa dihindari spekulasi yang menyebut bahwa aksi konvoi ini sebagai bentuk preasure dari Densus 88 setelah Kejaksaan Agung mulai membidik purnawirawan dari Densus 88 terkait dengan kasus tata niaga timah.
Selain konvoi, sebelumnya juga terciduk sejumlah anggota Densus yang membuntuti Jampidsus saat sedang makan di restoran.
Kita tahu, Jampidsus memang tengah menangani kasus-kasus korupsi besar termasuk tata niaga timah yang tengah berjalan.
Konflik antarlembaga di negara ini seolah menjadi sesuatu yang lazim terjadi.
Ini tentu bukan berarti kejaksaan perlu dibela dalam hal ini. Semua tahu kejaksaan juga masih menyimpan pekerjaan rumah bagaimana mereka harus bersih-bersih tentang praktik-praktik penyelewengan dalam proses penuntutan.
Kejaksaan juga harus segera berbenah terkait image bahwa di kejaksaan menjadi sarang bagaimana jual beli perkara terjadi. Kejaksaan juga harus berbenah dan membuktikan bahwa tebang pilih kasus tak lagi menjadi pembicaraan yang merusak institusi adiyaksa teresebut.
Sisi positifnya, preasure dari konvoi Densus88 di Kejagung juga harus menjadi pengingat bagi kejaksaan bahwa mereka juga harus melakukan upaya serius di isntitusi penuntutan ini.
Baca juga: Raung Sirene Demokrasi dari Bulaksumur
Kita juga perlu mengingat kasus cicak versus buaya yang sampai tiga jilid.
Cicak versus buaya adalah analogi perseteruan antara Polri dengan KPK dalam proses penegakan hukum.
Preasure dari Densus 88 melalui konvoi dengan membunyikan sirene dan menyalakan rotator adalah pentas konflik kepentingan antarlembaga yang mencuat dan menjadi tontonan terbuka bagi publik.
Tak bisa dipungkiri, tontonan semacam ini berimplikasi negatif bagi perspektif publik terhadap demokrasi dan penegakan hukum di negeri ini.
Rakyat dipertontonkan bagaimana elite dan bahkan lembaga negara secara liar menggunakan kekuatannya di luar fungsinya untuk membela kepentingan-kepentingan personal.
Baca juga: 3 Kebohongan Paling Epic
Ketidakpercayaan publik seolah dipelihara dan dibiarkan semakin hancur dan seakan digiring pada sebuah pemahaman bahwa otoritas negara semakin terkikis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/ibnu-taufik-juwariyanto-pemimpin-redaksi-tribun-kaltim.jpg)