Sabtu, 13 Juni 2026

Horizzon

Sekuel Golf Car Rp271 T

Mereka yang waras tentu memelihara sikap kritis terhadap penanganan kasus yang tampak sekali dioptimasi dengan angka Rp271 triliun ini.

Tayang:
Penulis: Ibnu Taufik Jr | Editor: Syaiful Syafar
DOK TRIBUNKALTIM.CO
Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim. 

Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim

BANYAK yang masih berpikiran waras sekaligus memelihara kewarasan terkait dengan angka Rp271 triliun yang selalu menempel di kasus korupsi tata kelola timah di Bangka Belitung yang tengah ditangani Kejaksaan Agung.

Dari kewarasan itulah maka muncul sejumlah pertanyaan besar tentang misi di balik pengungkapan kasus yang bukan bermula dari hasil tangkap tangan, melainkan dari upaya penyelidikan ini.

Pertanyaan itu di antaranya adalah, jika kasus ini merupakan hasil penyelidikan, lalu kenapa waktunya tidak sejak dulu, di mana praktik kongkalikong yang melibatkan PT Timah dan perusahaan swasta ini sudah berlangsung lama sekaligus terang-terangan.

Pertanyaan lain yang sudah terjawab adalah apakah para tersangka yang terjerat kasus ini akan dikenai UU TPPU, dan betul beberapa di antara mereka tampaknya memang akan 'dimiskinkan' lantaran penyidik kejaksaan menerapkan UU Tindak Pidana Pencucian Uang.

Pertanyaan yang juga tengah mencari jawaban adalah, kapan circle tersangka dari pemerintah daerah atau mungkin kepala daerah dan aparat keamanan akan menjadi daftar tersangka dalam kasus ini.

Sebab, orang Bangka paham betul bahwa praktik penyelewengan tata kelola timah ini patut diduga melibatkan sekaligus ikut dinikmati circle tersebut.

Baca juga: Sirene Densus 88 di Depan Kejaksaan Agung

Dari serentetan pertanyaan ini kemudian memunculkan pertanyaan 'mahkota' dari sebuah kecurigaan bahwa di balik kasus yang dilabeli dengan angka fantastis senilai Rp271 triliun ini tak lebih dari 'kekuatan' lain yang ini mengganti pemain atau pemeran utama dalam tata kelola timah di Bangka Belitung.

Mereka yang waras tentu memelihara sikap kritis terhadap penanganan kasus yang tampak sekali dioptimasi dengan angka Rp271 triliun ini.

Apalagi hampir setiap hari angka 271 ini selalu muncul di publik dan bahkan di pencarian Google volume search-nya mengalahkan angka 212 yang identik dengan Wiro Sableng yang gendeng.

Layaknya sebuah sinetron, sandiwara tentang kasus korupsi timah ini tiba-tiba memunculkan sub episode baru berjudul Densus 88 tertangkap basah melakukan penguntitan terhadap Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) yang memang tengah menangangi kasus ini.

Konon penguntitan ini disebut lantaran Jampidsus tengah menjawab salah satu pertanyaan besar, yaitu mengungkap keterlibatan purnawairawan jenderal yang ada di kasus tata kelola niaga timah ini.

Baca juga: Ketika Batu Bara Dengar Cerita tentang Derita Timah

Publik bahkan sudah diberitahu tentang inisial B dari pensiunan jenderal bintang empat di dalam kasus ini.

Lebih lengkap, kita semua juga dipertontonkan dengan psywar patroli yang dilakukan oleh belasan kendaraan roda dua dan rantis milik Brimob di sekitar gedung Kejaksaan Agung.

Semua akhirnya sudah dijawab bahwa itu bukan teror, melainkan patroli biasa.

Episode tambahan ini sebenarnya cukup lengkap, di mana dari personel Densus 88 yang ditangkap oleh pengawal Jampidsus ternyata memang sudah memiliki profiling terhadap Jampidsus Febrie Ardiansah.

Terlebih, publik disodori informasi tentang 'Sikat Jampidsus' adalah sandi dalam misi yang akhirnya terbongkar ini.

Baca juga: 3 Kebohongan Paling Epic

Dalam resolusi ilmu drama, termasuk sinetron, istilah klimaks dipakai untuk menyebut bagian cerita yang mengisahkan tentang akhir dari perselisihan antara tokoh-tokoh di dalam cerita.

Klimaks dalam sebuah drama biasanya juga menjadi momentum sebuah sinetron untuk mengubah arah sandiwara yang akan dipertontonkan.

Persis dengan sinetron korupsi timah Rp271 triliun yang tiba-tiba muncul kisah penguntitan terhadap Jampidsus yang menjadi tokoh sentral dalam kisah tersebut.

Sekuel penguntitan dan teror di Gedung Kejaksaan Agung tampaknya juga akan mengubah arah dari cerita ini.

Kapolri dan Jaksa Agung, dua orang pertama di institusi yang menjadi tokoh sentral dari kisah utama yang tengah berjalan dipanggil oleh presiden terkait dengan 'perang terbuka' dua institusi yang patut diduga terkait dengan penanganan kasus tata kelola niaga timah berlabel Rp271 triliun ini.

Tampilannya terkesan manis.

Baca juga: Ironi Demokrasi Basa-basi

Usai dipanggil presiden dan juga pertemuan yang diinisiasi oleh Menkopolhukan Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Listyo Sigit dan Jaksa Agung ST Burhanudin menunjukkan keakraban.

Usai pamer dan mengatakan bahwa hubungan Polri dan Kejagung dalam keadaan baik-baik saja dan tidak ada masalah, kita semua dipertontonkan dengan keakraban di antara mereka yang sama-sama menaiki golf car saat meninggalkan istana.

Di dalam golf car 'Rp271 T' itu tampak duduk bersebelahan Kapolda dan Jaksa Agung yang di sampingnya ada Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto duduk di kursi belakang.

Di depan tampak Menkopolhukam Hadi Tjahjanto dan makin lengkap dengan sosok Menteri Investasi Bahlil Lahadalia yang berdiri 'menumpang' di bagian belakang.

Pemandangan tersebut seolah ingin mengabarkan kepada Indonesia bahwa hubungan Kapolri dan Jaksa Agung dalam keadaan baik-baik saja dan semuanya sudah selesai.

Baca juga: Sakit Menahun Demokrasi Indonesia

Ini tentu menjadi kabar menggembirakan bagi publik, sekaligus ingin menyampaikan kesan bahwa dua institusi tersebut tidak sedang berkonflik.

Namun sesungguhnya, bagi mereka yang waras sekaligus memelihara kewarasan, sekuel golf car 'Rp271 T' yang keluar dari istana dengan senyum palsu dan kehangatan semu ini adalah sekuel paling satire yang merusak rasa keadilan publik.

Terlebih jika sekuel ini menjadi momentum menurunnya eskalasi penanganan kasus korupsi tata kelola timah.

Jika ini benar, maka itu semakin melegasi bahwa hukum di negeri ini berjalan bukan atas nama keadilan, melainkan atas nama kepentingan.

Kita ingin melihat ujung dari sinetron karya Jampidsus yang sempat trending ini berakhir dengan mengesankan.

Ingat, dalam pementasan yang telah menyita perhatian publik ini mesti terjawab siapa yang antagonis dan siapa yang protagonis.

Jangan sampai justru berakhir dengan kesimpulan bahwa ternyata Jampidsus adalah pengecut atau sekadar menjadi alat pergantian pemain belaka. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved