Tribun Kaltim Hari Ini
Pj Gubernur Kecewa, Angka Stunting Kaltim Hanya Turun 1 Persen, Akmal Malik: Penanganan Belum Tepat
Berdasarkan evaluasi nasional, pada 2024 ini angka stunting di Kaltim hanya berkurang atau menurun satu persen, dari 23,9 ke 22,9 persen.
Penulis: Tribun Kaltim | Editor: Amalia Husnul A
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Pemerintah daerah di Kalimantan Timur (Kaltim) sangat gencar menangani persoalan stunting di masyarakat.
Namun berdasarkan evaluasi nasional, pada 2024 ini angka stunting di Kaltim hanya berkurang atau menurun satu persen, dari 23,9 ke 22,9 persen.
Pernyataan terkait angka stunting di Kaltim ini diungkapkan Penjabat (Pj) Gubernur Kaltim, Akmal Malik.
Ia mengaku kecewa dengan nilai tersebut. Akmal menegaskan, pencapaian itu menjadi bahan evaluasi serius.
Baca juga: 11,8 Persen Jadi Target Pemkab Paser Turunkan Angka Stunting Hingga Tahun 2025
Baca juga: Mengenalkan Program Isi Piringku, Cara Cegah Stunting di Penajam Paser Utara Kaltim
Baca juga: Cegah Stunting dan Inflasi Melalui GEMARIKAN, Pemkot Samarinda Bakal Bangun Cold Storage
"Hasil itu menandakan kita belum kolaboratif. Kita juga belum punya data yang presisi," ucap Akmal Malik.
Ia mengatakan gerakan kolaboratif tidak hanya di instansi pemerintahan saja, tetapi dibutuhkan juga peran serta masyarakat.
Akmal memberi contoh, setiap tahunnya baik pemprov, pemerintah kabupaten hingga kota selalu memberikan bantuan kepada organisasi masyarakat seperti rumah ibadah.
Ia berharap dapat menyisihkan bantuan itu untuk anak-anak usia 0-2 tahun beserta ibu hamil.
"Apa yang bisa dilakukan? Pastikan ibu hamil minum suplemen penambah darah. Pastikan anak sampai usia 2 tahun makan 2 telur setiap harinya. Selesai masalah stunting itu," jelasnya.
Hal itu dirasa perlu. Sebab Akmal Malik menduga selama ini yang salah adalah cara menangani stunting.
"Kalau yang ditreatment sudah kena stunting, tidak akan ada gunanya. Tapi treatment yang belum kena stunting. Ya ibu hamil dan anak usia 0-2 tahun," imbuhnya.
Akmal Malik juga menegaskan tidak selamanya stunting terjadi karena faktor ekonomi. Sebab, dalam praktik di lapangan pemerintah banyak menemukan pola asuh anak yang kurang baik.

Sebagai contoh, ketika orangtua sibuk dan mendapati anaknya menangis atau rewel, untuk menenangkannya para orang tua akan memberikan makanan yang tidak sehat.
"Seperti snack yang banyak micin, gula dan instan. Nah pola asuh ini yang salah," bebernya.
Baca juga: Angka Stunting Terus Alami Penurunan di Masa Kepemimpinan Bupati Paser Fahmi Fadli
Oleh sebab itu penanganan stunting menjadi evaluasi serius ke depannya.
Ternyata Warga Solo Tolak Program Makan Siang Gratis, Gibran Sebut Tak Boleh Beri Stigma Stunting |
![]() |
---|
Upaya Pencegahan Stunting di Ibu Kota Negara di Kaltim, OIKN Nusantara Teken MoU dengan BKKBN |
![]() |
---|
Dinkes Kaltim Akui Stunting Turun Satu Persen, Lima Daerah jadi Prioritas Penanganan |
![]() |
---|
Strategi ini yang Dilakukan Dinas Kesehatan Mahulu Kaltim untuk Penanganan Stunting |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.