Sabtu, 13 Juni 2026

Horizzon

Berharap Demokrat Lupakan Masa Lalu

Saat itu Demokrat tak diperhitungkan peluangnya mendukung Isran Noor lantaran mantan Bupati Kutai Timur ini pernah menanggalkan jas biru Demokrat.

Tayang:
Penulis: Ibnu Taufik Jr | Editor: Syaiful Syafar
DOK TRIBUNKALTIM.CO
Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim. 

Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim

LANGKAH Partai Persatuan Pembangunan (PPP) bergabung dengan koalisi besar untuk mendukung Rudy Mas'ud-Seno Aji di Pilgub Kaltim 2024 membuat langkah Isran Noor semakin terpojok.

Kandidat berstatus petahana ini semakin tak leluasa untuk memeroleh tiket dukungan untuk mendaftar sebagai calon gubernur Kalimantan Timur di Pilkada 2024.

Sebelumnya, PPP adalah skema paling ideal bagi Isran Noor untuk dipinang dan dikawinkan dengan PDI Perjuangan untuk menggenapi syarat dukungan minimal bagi Isran Noor untuk kembali maju sebagai calon gubernur.

Hingga saat ini, di Pilgub Kaltim 2024 ada arus besar partai politik beramai-ramai mendukung pasangan Rudy Mas'ud dan Seno Aji.

Dipimpin Golkar (15 kursi), koalisi ini telah bergabung Gerindra (10 kursi), PAN (4 kursi), Nasdem (3 kursi), PKS (4 kursi), PKB (6 kursi) dan terakhir adalah PPP (2 kursi).

Baca juga: Perlawanan Diam Edelweizz

Sebelum PPP menyatakan sikap bergabung bersama Rudy Mas'ud, sebenarnya tersisa tiga partai yang berpeluang membuat poros tandingan, yaitu PDI Perjuangan, PPP dan Demokrat.

Saat itu Demokrat tak diperhitungkan peluangnya mendukung Isran Noor lantaran mantan Bupati Kutai Timur ini pernah menanggalkan jas biru Demokrat.

Dari analisa tersebut, maka yang paling memungkinkan bagi Isran adalah mengawinkan PDI Perjuangan dan PPP untuk mengantongi 11 kursi sebagai syarat minimal pencalonan.

Setelah PPP memutuskan sikap bergabung dengan koalisi Rudy Mas'ud-Seno Aji, maka Isran Noor harus berjuang lebih keras untuk bisa mendapatkan tiket PDI Perjuangan sekaligus mengawinkan dengan Partai Demokrat.

Sayangnya, sekenario dengan Demokrat ini jauh lebih sulit ketimbang dengan PPP.

Baca juga: Kado Kecil HUT ke-78 Korps Bhayangkara

Partai Demokrat Kaltim tentu masih ingat ketika pada 2014 lalu terpaksa harus menanggalkan paksa jas biru Demokrat yang dikenakan Isran Noor setelah Isran nekat mengikuti Konvensi Rakyat di kontestasi presiden.

Langkah Isran Noor mengikuti konvensi kala itu adalah balasan atas Partai Demokrat yang tidak meloloskan namanya dalam konvensi calon presiden yang digagas Demokrat.

Sikap Isran yang tidak tegak lurus dengan kebijakan Demokrat itulah yang membuat dirinya berhenti atau diberhentikan sebagai kader partai berlambang bintang mercy ini.

Kisah lama Isran dengan Demokrat inilah yang seolah menjadi barrier sekaligus mengganjal Demokrat akan menyerahkan rekomendasinya untuk Isran Noor.

Demokrat tentu tak ingin dinilai sebagai partai yang pragmatis memberikan rekomendasi kepada orang yang pernah tidak sejalan dengan kebijakan partai.

Baca juga: Membaca Arah Pemikiran Rocky Gerung

Kalaupun langkah tersebut dilakukan, butuh energi tak sedikit bagi Demokrat untuk membuat publik dan utamanya konstituen Demokrat Kalimantan Timur atas kebijakan kembali rukun dengan Gubernur Kaltim periode 2019-2024 ini.

Setali tiga uang, sikap PDI Perjuangan yang sejauh ini memilih diam sebenarnya juga bisa dipahami dari luka yang masih basah yang dirasakan PDI Perjuangan usai dikecewakan keluarga Jokowi.

Kita tahu bagaimana marah dan lukanya PDI Perjuangan setelah di Pilpres lalu justru ditinggalkan Jokowi, kader yang dibesarkan di kandang banteng justru tak berada di barisan PDI Perjuangan.

Boleh jadi, diamnya PDI Perjuangan Kaltim ini juga tak lain lantaran kekhawatiran akan kembali terluka.

Bukan sekali Isran Noor meninggalkan partai politik.

Terakhir, jelang PIlpres, Isran Noor yang berstatus sebagai Ketua DPD Nasdem Kalimantan Timur juga memilih menanggalkan jas kebesaran Nasdem.

Baca juga: Satu Menit Empat Puluh Tujuh Detik

Tak ada yang tahu mundurnya Isran Noor dari Nasdem jelang gelaran Pilpres 2024 lalu.

Yang jelas, sikap Isran Noor yang sering keluar masuk parpol ini tentu juga menjadi pertimbangan PDI Perjuangan untuk mengusungnya di Pilkada Kaltim 2024.

PDI Perjuangan masih terluka dengan sikap politik Jokowi dan keluarganya yang berkhianat, tentu luka itu yang belum kering itu menjadikan PDI Perjuangan lebih selektif dalam menentukan siapa yang layak dan pantas didukung.

PDI Perjuangan Kaltim tentu tak ingin bernasib sama dengan Demokrat maupun Nasdem Kaltim yang pernah ditinggalkan Isran Noor.

Faktanya, peluang yang tersisa untuk Isran Noor di Pilkada Kaltim adalah mengawinkan PDI Perjuangan (9 kursi) dan Demokrat (2) kursi.

Baca juga: Sekuel Golf Car Rp271 T

Sebagai politisi senior, Isran harus sanggup meyakinkan kedua partai tersebut agar ia bisa ikut berkontestasi di Pilgub Kaltim 2024.

Kita berharap, PDI Perjuangan bisa bersikap rasional dan percaya dengan proposal atau komitmen dari Isran Noor sekaligus Demokrat bisa melupakan luka masa lalu, sehingga keduanya bisa duet mengusung Isran Noor, petahana Gubernur Kaltim bisa ikut berkontestasi di Pilkada serentak 2024.

Publik Kaltim berharap, Isran mampu menyelesaikan problem pelik ini agar nantinya di gelaran Pilkada serentak, Kaltim memiliki lebih banyak pilihan. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
VS
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved