Sabtu, 13 Juni 2026

Horizzon

Welcome Home Isran Noor 

Bukan cuma-cuma, rekomendasi itu harus dibayar oleh Isran Noor dengan menasbihkan dirinya kembali menjadi kader partai yang pernah ditinggalkannya. 

Tayang:
Penulis: Ibnu Taufik Jr | Editor: Syaiful Syafar
DOK TRIBUNKALTIM.CO
Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim. 

Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim

DEMOKRAT akhirnya bisa melupakan kisah lama yang pernah tertulis di Kalimantan Timur

Ini dibuktikan dengan diserahkannya rekomendasi partai berlambang bintang mercy tersebut kepada Isran Noor dan Hadi Mulyadi, pasangan bakal calon gubernur dan bakal calon wakil gubernur Kalimantan Timur, Jumat (9/8/2024). 

Bukan cuma-cuma, rekomendasi itu harus dibayar oleh Isran Noor dengan menasbihkan dirinya kembali menjadi kader partai yang pernah ditinggalkannya. 

Publik Kalimantan Timur masih ingat bagaimana dulu Isran Noor berani mengambil sikap berbeda dengan kebijakan partai besutan SBY tersebut lantaran mengikuti konvensi calon presiden. 

Intinya, Isran memilih berbeda pendapat dengan Demokrat dan rela untuk meninggalkan partai berlambang bintang mercy tersebut. 

Baca juga: Saat Jakarta Diserbu Pemburu Tiket

Ini tentu kabar menggembirakan bagi proses kontestasi yang akan diikuti oleh Isran di Pilgub Kaltim.

Meski harus kembali berstatus sebagai kader Partai Demokrat, Isran setidaknya sudah selangkah lebih maju dengan mengantongi rekomendasi dari satu di antara dua partai tersisa. 

Untuk diketahui, kesempatan Isran untuk ikut berkontestasi di Pilgub Kaltim 2024 tinggal bisa berharap 'tiket' tersisa, yaitu rekomendasi Partai Demokrat dan PDI Perjuangan.

Sementara partai yang lain, yaitu Golkar, Gerindra, PAN, PKS, PKB, dan Nasdem sudah memberikan kepercayaan mereka ke pasangan Rudy Mas'ud-Seno Aji. 

Awalnya, komposisi paling ideal untuk tiket Isran-Hadi yang berstatus petahana ini adalah PDI Perjuangan dan PPP.

Selain itu linear dengan kontestasi Pilpres 2024, di mana koalisi PDI Perjuangan dan PPP ini adalah partai pendukung pasangan Ganjar-Mahfud, maka cerita tentang Isran yang pernah meninggalkan Demokrat juga menjadi ganjalan. 

Namun, rupanya PPP yang memiliki dua kursi di DPRD Kaltim justru mengambil sikap bergabung dengan koalisi besar mendukung pasangan Rudy Mas'ud-Seno Aji. 

Baca juga: Berharap Demokrat Lupakan Masa Lalu

Beruntung, Isran Noor sebagai politikus senior justru mampu mengunci Demokrat dan justru mampu mengantongi dukungan dari partai yang memiliki dua kursi di DPRD Kaltim ini pada Jumat (9/8/2024) lalu. 

Untuk menggenapi persyaratan minimal 20 persen dukungan atau 11 kursi, duet antara PDI Perjuangan yang memiliki 9 kursi dan Demokrat yang memiliki 2 kursi sudah cukup. 

Kita berharap langkah Isran Noor mengamankan tiket Demokrat adalah langkah positif untuk kontestasi pasangan petahana ini dan bukan justru menjadi langkah blunder. 

Kekhawatiran ini masih masuk akal, di mana dalam memastikan tiket Demokrat, Isran harus berstatus sebagai kader Demokrat, atau setidaknya diklaim demikian oleh Ketua Umum Partai Demokrat, AHY

Klaim ini tentu secara politik juga bisa berimbas ke sikap PDI Perjuangan yang notabene memiliki lebih banyak kursi di DPRD Kaltim.

Baca juga: Membaca Arah Pemikiran Rocky Gerung

Tentu tidak mungkin di Demokrat Isran mengaku sebagai kader Demokrat, sedangkan ketika di PDI perjuangan, ia juga mengaku sebagai kader PDi Perjuangan. 

Sementara hingga saat ini, PDI Perjuangan juga belum sekalipun memberikan arah politik yang jelas terkait Pilgub Kaltim 2024.

Beberapa kali dikonfirmasi, PDI Perjuangan menjawab dengan ambigiusitas dan hanya mengatakan tidak ingin Pilgub Kaltim 2024 adalah calon tunggal. 

Secara politis, PDI Perjuangan juga tengah dalam kondisi yang 'tidak baik-baik saja' setelah ditinggalkan kader yang telah dibesarkannya, yaitu Joko Widodo.

Manuver politik Jokowi di Pilpres lalu tentu sangat membekas bagi PDI Perjuangan dan itu akan menjadi landasan bagi sikap politik PDI Perjuangan dalam kontestasi Pilkada serentak 2024 kali ini. 

Baca juga: Satu Menit Empat Puluh Tujuh Detik

Tak mudah tentu bagi PDI Perjuangan yang memiliki lebih banyak kursi justru menjadi partai yang mendukung kader parpol lain yang jumlah kursinya lebih sedikit.

Jika pun langkah tersebut diambil oleh PDI Perjuangan, butuh alasan yang kuat sehingga PDI Perjuangan tak dianggap 'kalah.'

Atau boleh jadi, untuk merayu PDI Perjuangan, setelah Isran menjadi kader Demokrat, maka wakilnya, Hadi Mulyadi yang hingga saat ini tercatat sebagai kader Partai Gelora harus berganti baju PDI Perjuangan

Politik memang pelik, namun itulah fakta yang terjadi dalam dunia politik. Kawan bisa jadi lawan, lawan bisa jadi lawan dan seterusnya.

Dalam politik tak ada yang abadi, kecuali kepentingan yang abadi. 

Baca juga: Benarkah Kaltim jadi Tuan Rumah IKN?

Kita berharap, Isran-Hadi dengan segala kerumitannya bisa melewati ini semua.

Partai Demokrat sudah dipegang dan tinggal langkah terakhir untuk menaklukkan hati Megawati Soekarnoputri, pemegang hak prerogatif PDI Perjuangan di kontestasi Pilkada Kaltim 2024

DPD PDI Perjuangan sejak Juli 2024 lalu juga sudah memerjuangkan pasangan ini untuk memeroleh tiket dari DPP.

Itu adalah modal awal yang semoga cukup bagi Isran Noor untuk menjaga asa bisa ikut dalam kontestasi di Pilkada Kaltim 2024.

Semoga ucapan AHY yang menyambut Isran dengan "Welcome Home Pak Isran" adalah langkah positif, bukan justru menjadi ganjalan. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
Live
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved