Salam Tribun
BBM Bermasalah, Siapa Salah?
Kisah-kisah pemilik kendaraan yang mesinnya bermasalah setelah mengisi BBM di SPBU juga diterima Tim Tribun Kaltim saat mereka diwawancarai.
Penulis: Sumarsono | Editor: Syaiful Syafar
Oleh: Sumarsono, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim
BEBERAPA minggu belakangan ini masyarakat Kalimantan Timur, khususnya pengguna kendaraan bermotor resah, karena bahan bakar minyak (BBM) yang mereka beli dari SPBU bikin kendaraan bermasalah.
Seorang teman yang datang ke rumah saat lebaran kemarin curhat, sepeda motornya tiba-tiba ngadat seusai mengisi Pertamax di salah satu SPBU di Balikpapan.
"Pas melewati jalan tanjakan motor tiba-tiba 'mrebet'. Digas tidak bisa, jadi terpaksa dorong. Saya panggil mekanik, setelah dibuka mesinnya ternyata BBM-nya bermasalah. Setelah dikuras dan diganti BBM eceran malah bisa jalan lagi," ujarnya.
Kisah-kisah pemilik kendaraan yang mesinnya bermasalah setelah mengisi BBM di SPBU juga diterima Tim Tribun Kaltim saat mereka diwawancarai.
Umumnya, mereka mengaku mesin kendaraan 'mrebet' tidak bisa jalan, karena BBM yang diduga bermasalah.
Entah bercampur air atau material apa, mereka pun belum mendapat kejelasan. Yang mereka rasakan, mesin kendaraan rusak, harus dikuras dan diganti BBM.
Baca juga: Fenomena Mesin Kendaraan Mogok Usai Isi BBM di SPBU Balikpapan, DPRD Beri Saran Gugat Bersama
Masyarakat pun ramai mencurahkan kejengkelan di media sosial, dan viral.
Mereka menyalahkan pihak SPBU dan Pertamina sebagai otoritas penyedia BBM, baik Pertalite maupun Pertamax.
Kecurigaan masyarakat kemungkinan BBM dicampur atau oplosan tentu bukan tanpa alasan.
Apalagi belum lama ini publik dikagetkan dengan terungkapnya kasus dugaan pengoplosan BBM yang melibatkan sejumlah oknum petinggi Pertamina.
Dan faktanya, kendaraan mereka rusak setelah mengisi BBM di SPBU.
Baca juga: YLKI Kaltim Siap Bantu Warga yang Ingin Gugat Pidana dan Perdata Dugaan BBM Oplosan
Penelusuran Tribun Kaltim dan informasi yang beredar di media sosial, kasus dugaan BBM bermasalah di sejumlah SPBU terjadi di Balikpapan, Samarinda, Tenggarong, dan Bontang.
Kalau pun toh masyarakat "mengada-ada" sepertinya kok tidak, karena masalah yang dihadapi kurang lebih sama.
Menindaklanjuti keresahan beberapa masyarakat, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas'ud dan pihak Pertamina pun langsung bereaksi.
Demikian juga dari kepolisian yang turun ke sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk memastikan apakah BBM yang dijual bermasalah atau tidak.
Gubernur bersama perwakilan Pertamina melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dua SPBU yang ada di Kota Samarinda, yakni SPBU Karang Asam, Kecamatan Sungai Kunjang, dan SPBU di Jalan PM Noor, Samarinda.
Baca juga: Rudy Masud Sidak 2 SPBU di Samarinda, Tanggapi Keluhan Masyarakat soal Kendaraan Rusak Usai Isi BBM
Sebelumnya, tim Pertamina dan dari kepolisian, baik Polresta Balikpapan, Polres Kukar, dan Polres Bontang telah melakukan sidak ke beberapa SPBU.
Hasilnya, setelah dilakukan uji sample dan pemeriksaan tangki-tangki timbunan Pertalite dan Pertamax, BBM tidak bermasalah alias aman.
Saat dilakukan pengecekan, tangki tersebut clear and clean atau bebas dari benda-benda lainnya.
Usai sidak, kepada media, Gubernur Rudy juga menyebutkan bahwa semua proses pengiriman BBM mulai dari tangki sampai masuk ke dalam SPBU masih sesuai standar.
Kalau BBM di SPBU tidak bermasalah, jadi motor rusak siapa yang disalahkan.
Mencari "kambing hitam". Mungkin mesin kendaraan bermasalah karena kemasukan air saat banjir.
Pertanyaannya, kalau akibat banjir, seharusnya kendaraan sudah bermasalah tanpa menunggu setelah mengisi BBM di SPBU.
Masyarakat sebenarnya hanya berharap, persoalan BBM bermasalah ini bisa diketahui penyebab dan solusinya apa. Dan yang terpenting, masyarakat tidak was-was lagi mengisi BBM, khususnya Pertamax di SPBU.
Dulu kita khawatir mengisi BBM di penjual eceran, karena takut dicampur air atau minyak tanah.
Nah sekarang, sebaliknya, ada rasa khawatir ketika beli BBM di SPBU.
Pemerintah dalam hal ini Pertamina perlu segera melakukan investigasi, apa sebab musabab kendaraan sebagian masyarakat yang rusak diduga akibat BBM bermasalah ini.
Caranya, tentu memeriksa sampel BBM yang dipakai dan membuat masalah mesin kendaraan itu. Ambil beberapa sampel, lakukan uji lab.
Untuk menentukan penyebab pasti, analisis laboratorium terhadap sampel bahan bakar sangat diperlukan.
Hasil pengujian tersebut akan memberikan konfirmasi mengenai kesesuaian bahan bakar dengan standar yang ditetapkan pemerintah.
Kalau hasilnya memang BBM aman, berarti clear, bahwa kerusakaan mesin motor bukan akibat mengisi BBM di SPBU.
Bagi masyarakat yang menjadi "korban" sebaiknya juga melaporkan atau mengadukan persoalannya ke Pertamina melalui Hotline resminya 135.
Bukan curhat di media sosial, yang tidak bisa menyelesaikan masalah, justru membuat kegaduhan.
PT Pertamina Patraniaga telah membuka nomor pengaduan masyarakat melalui Hotline 135.
Baca juga: Pertamina Minta Masyarakat Laporkan Gangguan BBM Lewat Kanal Resmi ke Hotline 135
Bagi masyarakat yang merasa mengalami kendala atau permasalahan kendaraan akibat penggunaan BBM usai mengisi di SPBU silakan melapor.
Semoga segera terjawab, apa penyebab kendaraan bermasalah, sehingga masyarakat tidak semakin resah.
Pemerintah dan Pertamina harus segera memecahkan masalah, jangan mencari siapa yang salah..! (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250406_Sumarsono-Pemimpin-Redaksi-Tribun-Kaltim.jpg)