Opini
Mengapa Rakyat Mudah Marah?
Beberapa minggu terakhir ini kita disuguhi berita yang menyesakkan hati.
Saya yakin, para petinggi Danantara sudah sangat faham tentang bagaimana pengeloaan keuangan yang bisa fraud.
Masalahnya terletak bagaimana menegakkan integritas itu dari dalam diri sendiri.
Banyaknya kasus korupsi yang mencapai triliunan rupiah yang melibatkan banyak pihak, dengan hukuman yang relatif ringan bisa melukai rasa keadilan masyarakat.
Begitu juga penanganan perkara oleh aparat penegak hukum yang kurang obyektif dan dianggap diskriminatif juga bisa melukai rasa keadilan rakyat.
Ketika kondisi yang dirasakan rakyat sudah merasa tertekan oleh himpitan ekonomi dan berbagai kebijakan ekonomi maupun kebijakan bidang lainnya yang tidak berpihak kepada rakyat kecil, maka ketika ada momentum yang tepat untuk menyuarakan rasa keadilan, mereka akan terpanggil dengan kesadaran sendiri untuk ikut berusaha memperbaiki masa depan, memperbaiki Indonesia yang kita cintai bersama.
Baca juga: Respons Puan Maharani soal Ojol Tewas Dilindas Rantis Brimob saat Demo Ricuh di DPR
Mereka akan mudah terbawa oleh gerakan massa yang ingin menyuarakan rasa keadilan dan ingin merubah Indonesia menjadi lebih baik.
Situasi terkini, respon aparat keamanan terhadap penanganan unjuk rasa jaga perlu mendapatkan perhatian.
Tidak bisa dilakukan secara represif tapi harus persuasif, sehingga suasana tidak tegang dan seperti berhadap-hadapan.
Kasus penggunaan gas air mata untuk membubarkan kerumunan harus benar-benar dikaji secara matang sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP).
Penggunaan kendaraan taktis (rantis) yang sampai menggilas pengemudi ojek onlone (ojol) yang sedang mencari nafkah menghantarkan pesanan ke konsumen dan tidak sedang ikut unjuk rasa, serta sudah diingatkan oleh warga masyarakat yang demo, juga bisa memantik unjuk rasa yang lebih besar, dan kadang tidak terkontrol, sehingga terjadi pengrusakan kendaraan, gedung dengan cara dibakar.
Baca juga: Sorotan Media Asing dari Asia hingga Eropa, Kericuhan Demo di Jakarta, Kendaraan Polisi Lindas Ojol
Tentu semua itu tidak kita inginkan, karena kendaraan dinas, rumah dinas dibeli dan dibangun dari uang rakyat, melalui pajak yang dikumpulkan oleh Aparatur Sipil Negara.
Semoha dengan kejadian tersebut, yang membuat ekonomi Indonesia semakin terpuruk, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah, nilai rupiah terhadap mata uang asing, terutama terhadap mata uang dollar Amerika terkoreksi, bisa menambah kepekaan aparat penyelenggara negara untuk merasakan atau empati terhadap kondisi ekonomi masyarakat bawah.
Sudah saatnya kita bahu membahu dan memperkuat soliditas negara di tengah gempuran pengaruh hegemoni dunia luar yang sangat dahsyat. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/dr-moh-jauhar-efendi_new.jpg)