OPINI
Refleksi 2025: Apa yang Mesti Dilakukan di Tahun 2026?
Program apa yang sudah berhasil dilaksanakan, dan apa yang belum dilaksanakan? Bagaimana capaian kinerjanya? Hambatan-hambatan apa yang dihadapi?
Setelah output, kita harus bicara tentang outcome. Secara sederhana, outcome adalah perubahan yang terjadi sebagai akibat dari output yang dihasilkan.
Outcome dapat berupa perubahan perilaku, pengetahuan, atau kondisi yang diharapkan.
Dalam contoh kasus penghijauan, tentu saja harus dipastikan, dari 1.000 pohon yang ditanam, apakah hidup semua?
Berapa persen yang mati dalam kurun waktu tertentu? Di negara-negara maju, hal seperti ini menjadi perhatian yang serius.
Sementara di negara kita tercinta, kadang kegiatan atau proyek penanaman pohon masih menjadi acara seremonial, sehingga tingkat keberhasilan program dalam jangka menengah dan jangka panjang kadang luput untuk mendapatkan perhatian.
Baca juga: Penampakan Perayaan Tahun Baru 2026 di Berbagai Wilayah Kaltim, Kembang Api Menghiasi Langit
Harian Kompas (30/12) mengangkat berita ”Diresmikan Wapres Gibran, Ladang Jagung di Tangerang Kini Terbengkalai dan Dipenuhi Rumput Liar”.
Dalam berita tersebut dijelaskan bahwa ladang jagung di Desa Bantarpanjang, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, tampak dipenuhi rumput liar.
Lebih lanjut dalam berita tersebut dijelaskan, bahwa ladang ini sebelumnya diresmikan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka pada Oktober 2025 sebagai bagian dari Program Ketahanan Pangan Nasional. (Kompas.com, 1 Januari 2026).
Belum lagi jika kita bicara fungsional. Apakah kegiatan atau proyek tersebut bisa fungsional apa gak?
Kalaupun fungsional, apakah proyek tersebut benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat atau target sasaran kegiatan.
Misalnya, pembangunan Pasar Desa. Katakanlah Pasar Desa sudah terbangun dan bisa digunakan.
Kualitas bangunan baik, ada fasilitas listrik dari PLN, ada fasilitas ketersediaan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), tetapi masyarakat tidak mau memanfaatkan, karena misalnya letaknya tidak strategis, jauh dari pemukiman.
Maka kasus seperti ini juga perlu dievaluasi agar tidak terjadi lagi kasus-kasus semacam ini di masa yang akan datang.
Dalam skala nasional, contoh pembangunan Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka Jawa Barat.
Pembangunan Bandara Kertajati ini dulu digagas untuk menggantikan Bandara Husain Sastranegara, yang berada di Kota Bandung.
| Menjaga Rupiah di Tengah Badai Global: Bukan Sekedar Urusan Suku Bunga |
|
|---|
| Jas Krem di Tengah Lautan Jas Gelap |
|
|---|
| QRIS: Dari Nusantara Hingga China, Fondasi Institusional Dari Tren Menuju Transformasi Struktural |
|
|---|
| Presensi Bodong: Perlunya Menjaga Kewarasan Moral |
|
|---|
| Hari Palang Merah Dunia: Terjadi Degradasi Nilai Kemanusiaan? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/dr-moh-jauhar-efendi_new.jpg)