OPINI
Refleksi 2025: Apa yang Mesti Dilakukan di Tahun 2026?
Program apa yang sudah berhasil dilaksanakan, dan apa yang belum dilaksanakan? Bagaimana capaian kinerjanya? Hambatan-hambatan apa yang dihadapi?
Dulu ada maskapai Adam Air yang terkenal low cost atau berbiaya murah. Penulis termasuk salah satu pengguna yang setia, karena semata-mata pertimbangan biaya murah.
Tidak lama sebelum Pesawat Adam Air Jatuh 19 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 1 Januari 2007 di Selat Makassar, dekat Polewali Sulawesi Barat, penulis naik pesawat Adam Air dari Kota Kuching ke Kota Pontianak.
Akhirnya Maskapai Adam Air berhenti operasi secara resmi pada tanggal 18 Maret 2008, setelah izin terbangnya dicabut oleh Departemen Perhubungan.
Penulis mendapatkan banyak informasi bahwa Pesawat Adam Air kalau ada komponen pesawat yang rusak diambilkan dari pesawat yang lain yang sudah tidak beroperasi.
Praktik seperti ini tentu sangat berbahaya dan tidak sesuai dengan standar keselamatan penerbangan.
Bahkan, Badan Keselamatan Transportasi Australia (ATSB) juga menemukan bahwa suku cadang yang digunakan pada pesawat Adam Air tidak sesuai dengan standar keselamatan.
Praktik kanibalisme (cannibalization), ini bisa juga terjadi pada program atau kegiatan atau proyek Pemerintah, namun praktik ini nampaknya tidak disadari.
Contoh sederhana, misalnya dalam suatu wilayah Kabupaten, Dinas Pertanian membuat program/kegiatan bantuan pengadaan bibit pohon buah nangka untuk memenuhi kebutuhan buah maupun sayur nangka warga masyarakat di beberapa wilayah desa maupun kecamatan terpilih.
Setahun atau dua tahun kemudian, di lokasi yang sama, Dinas Peternakan membuat proyek kegiatan berupa pengadaan bibit anak kambing.
Semua kepala keluarga yang diberikan bibit pohon nangka juga menerima bibit anak kambing untuk dibesarkan, karena mereka termasuk katagori warga miskin.
Program ini tentu sangat mulia karena bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan.
Baca juga: Menatap Visi 2028, IKN jadi Pusat Politik dan Jakarta Magnet Ekonomi Global
Tapi apa lacur yang terjadi? Dalam waktu singkat kambing-kambing yang tidak diikat atau dikandangkan dan dicarikan makanan oleh pemiliknya, segera menghabisi daun-daun pohon buah nangka yang sedang tumbuh subur, karena memang kambing suka dengan daun pohon buah nangka.
Maka inilah yang penulis namakan ”kanibalisme program”.
Program yang satu memakan atau mematikan program yang lain, sehingga program yang digagas oleh Dinas Pertanian lenyap tidak berbekas.
Hal-hal seperti inilah yang harus dilakukan pencermatan, koordinasi dan kolaborasi antar Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di tengah menurunnya jumlah anggaran.
Pasalnya, menurunnya jumlah dana transfer ke daerah (TKD), sehingga program atau kegiatan menjadi lebih efisien dan efektif serta bukan hanya diukur dari sisi pencapaian output, tetapi juga outcome dan impactnya yang jauh lebih penting daripada sekedar pencapaian output. (*)
*) Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Kaltim. Mantan Camat Babulu dan Penajam, mantan Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Prov Kaltim, dan mantan Pjs. Bupati Kutai Timur.
| Menjaga Rupiah di Tengah Badai Global: Bukan Sekedar Urusan Suku Bunga |
|
|---|
| Jas Krem di Tengah Lautan Jas Gelap |
|
|---|
| QRIS: Dari Nusantara Hingga China, Fondasi Institusional Dari Tren Menuju Transformasi Struktural |
|
|---|
| Presensi Bodong: Perlunya Menjaga Kewarasan Moral |
|
|---|
| Hari Palang Merah Dunia: Terjadi Degradasi Nilai Kemanusiaan? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/dr-moh-jauhar-efendi_new.jpg)