Rabu, 20 Mei 2026

OPINI

Menertawakan Diri Sendiri – Bagian 2

Kisah yang saya ceritakan ini sudah berlangsung cukup lama, namun jika mengingat-ingat kejadian tersebut membuat saya tertawa sendiri.

Tayang:
Editor: Sumarsono
Grafis Tribun Kaltim/Canva/HO
Dr. Drs. Moh. Jauhar Efendi, M.Si., CH.Ps, Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Kaltim/Mantan Camat Babulu dan Penajam/ mantan Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Prov Kaltim/mantan Pjs. Bupati Kutai Timur. 

”Ada apa Pak?” Saya jawab, ”Saya kehilangan kunci motor”. Saya diminta mengingat-ingat kembali di mana naruh kuncinya? Spontan saya jawab, ”biasanya saya masukkan kantong kanan celana saya”.

”Mungkin jatuh waktu Bapak jongkok”, kata Ibu tersebut. Saran Ibu tersebut masuk akal.

Saya kembali menelusuri apa yang dikatakan oleh Ibu tersebut. Namanya juga usaha. Siapa tahu ketemu. Ternyata gak ketemu juga.

Akhirnya Ibu itu menawarkan motornya untuk saya pakai mencari tukang bikin kunci yang bisa dipanggil, sambil memberikan referensi di mana ada tukang kunci yang mangkal.

Saya merasa bersyukur, ada orang yang baik hati bersedia meminjamkan motornya, sambil menjaga anak saya Nabiel.

Bayangkan, betapa sulitnya saya kalau tidak dipinjami motor, karena pada saat itu belum ada tukang ojek online, seperti Gojek, Grab maupun Maxim.

Singkat cerita ketemulah tukang kunci dimaksud untuk saya bawa ke Sekolah TK. Dengan sigap tukang kunci tersebut bekerja dengan serius dan berhasil membuat duplikat kunci dan akhirnya motor bisa saya bawa pulang dengan membonceng anak saya.

Soal ongkos bikin kunci duplikat, saya sudah lupa berapa nilainya.

Keesokan harinya, ketika celana mau dicuci, semua kantong saya periksa. Termasuk kantong belakang celana.

Betapa terkejutnya, ketika  kunci yang saya cari-cari kemarin ternyata ada di saku belakang celana.

Dari peristiwa yang saya alami, ada pelajaran berharga yang bisa saya peroleh, yaitu ketika kita merubah kebiasaan (termasuk merubah kebiasaan yang tidak disengaja atau tanpa disadari), menyebabkan kekacauan sebuah sistem.

Jujur, saya tidak pernah menyimpan kunci motor di saku belakang celana. Karena itu, tidak terbersit sedikitpun untuk mengecek keberadaan kunci di saku belakang celana. Kesimpulannya, tanpa saya sadari saya menyimpan kunci di saku celana bagian belakang.

Celakanya, saya tidak memberikan opsi pemikiran alternatif, untuk memeriksa saku celana bagian belakang. Itulah sesungguhnya keterbatasan manusia.

Sombong dan menafikan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja itu terjadi, tanpa kita sadari, menyebabkan rumitnya sebuah masalah, dan sulitnya memecahkan masalah.

Baca juga: Ikut Menertawakan Ucapan Budi Dalton Pelesetkan Miras Minuman Rasulullah, Sule Terancam Dipolisikan

Episode Kedua: Berangkat Naik Sepeda Motor, Pulang Naik Sepeda Kayuh

Peristiwa yang saya alami ini jauh lebih lama lagi.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved