OPINI
Menertawakan Diri Sendiri – Bagian 2
Kisah yang saya ceritakan ini sudah berlangsung cukup lama, namun jika mengingat-ingat kejadian tersebut membuat saya tertawa sendiri.
Saat saya masih SLA, tentu saja masih bujangan. Saya dibelikan motor second (seken/bekas) merek Suzuki GT oleh almarhum ayah saya, Moestamin Hambali.
Motor Suzuki GT ini cukup populer di era 80-an. Salah satu model yang paling ikonik, yaitu Suzuki GT 125. Motor yang saya miliki GT 125, warna hitam. Warna kesukaan saya.
Motor inilah yang saya pakai sehari-hari berangkat ke sekolah. Jarak rumah orang tua ke sekolah sekitar 6 kilometer. Pada masa itu jarak tersebut sepertinya cukup jauh.
Kenapa? Karena moda transportasi masih sangat jarang. Bahkan, jarak tersebut masih bisa ditempuh dengan naik kereta api dari Stasiun Kecamatan sampai ke Stasiun Kecamatan yang lain.
Jangan membayangkan laju kereta apinya cepat. Pada masa itu, lokomotif kereta api disebut kereta api uap. Batu bara merupakan bahan bakar utama.
Bahkan, di masa kecil sampai remaja, beberapa kereta api uap, terutama di kawasan pabrik gula sebagai bahan bakarnya masih menggunakan ampas tebu (bagasse) sebagai bahan bakar alternatif.
Ampas tebu dapat menjadi sumber energi yang relatif murah dan tersedia secara lokal, terutama di Pulau Jawa.
Kereta api tersebut bisa menarik puluhan lori (gerbong) kereta, berupa bak terbuka yang kanan kirinya ada tiang besinya, berisi tebu yang akan dimasukkan ke pabrik gula untuk diproses menjadi gula.
Desain gerbong tersebut lebih pendek jika dibandingkan dengan gerbong penumpang. Nah, sisa perasan tebu (limbah tebu) menjadi gula inilah yang disebut dengan ampas (bagasse). Sebuah siklus yang apik sekali.
Pada masa itu kawan-kawan saya yang mau ke sekolah alternatifnya kalau tidak naik angkot (dulu sering masyarakat menyebut colt).
Padahal colt itu merujuk merek kendaraan roda 4 buatan Jepang.
Ada juga yang naik sepeda kayuh, sepeda motor dan tentu ada juga yang jalan kaki, bagi yang tinggal dekat sekolahan. Tetapi pada masa itu mayoritas siswa sekolah naik sepeda kayuh.
Suatu hari, usai keluar kelas, saya dan kawan-kawan diajak berombongan pulang dengan naik sepeda kayuh bersama-sama.
Saya dibonceng kawan saya. Tentu saja rumah kawan saya melewati rumah orang tua, sehingga ketika sampai di depan rumah orang tua (karena berada di tepi jalan raya), saya bisa loncat turun, tanpa sepeda kayuh harus berhenti.
Jangan dibayangkan sadel boncengan ada busanya seperti sepeda model sekarang. Sadel boncengan di belakang benar-benar dari pipa besi yang bisa berkarat. Jadi pasti keras.
| Menjaga Rupiah di Tengah Badai Global: Bukan Sekedar Urusan Suku Bunga |
|
|---|
| Jas Krem di Tengah Lautan Jas Gelap |
|
|---|
| QRIS: Dari Nusantara Hingga China, Fondasi Institusional Dari Tren Menuju Transformasi Struktural |
|
|---|
| Presensi Bodong: Perlunya Menjaga Kewarasan Moral |
|
|---|
| Hari Palang Merah Dunia: Terjadi Degradasi Nilai Kemanusiaan? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/Jauhar-baru.jpg)