OPINI
Helm yang Melindungi, Bukan Menghakimi: Refleksi Atas Tragedi di Tual
Kembali terjadi lagi kita di buat cemas lantaran hilangnya nyawa seorang pelajar di tangan oknum aparat
Oleh: Muhammad Apriransa, Ketua Umum Senat Mahasiswa FEB Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda
TRIBUNKALTIM.CO - Kembali terjadi lagi kita di buat cemas lantaran hilangnya nyawa seorang pelajar di tangan oknum aparat.
Tragedi menimpa AT (14) dan NA (15), yang saat itu keduanya masih mengenakan seragam sekolah, tepatnya pada Kamis (19/2/2026) lalu.
Mereka kakak beradik yang masih duduk di kelas IX di salah satu madrasah Islam negeri setingkat SMP di Kota Tual, Maluku.
Sang adik, AT siswa MTSN Tual, Maluku, meninggal dunia setelah diduga dianiaya dengan ayunan helm milik anggota Brimob.
Pelaku adalah Bripda Masias Siahaya atau berinisial MS yang bertugas sebagai Anggota Kompi 1 Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Maluku.
Baca juga: Satu Tahun Kepemimpinan Rudy Masud - Seno Aji: Menakar “Gratispol”
Oknum Brimob Bripda MS menjadi potret buram penegakan hukum di Indonesia, yang kembali terpaksa harus berulang.
Helm, yang secara filosofis dan fungsional adalah benda pelindung keselamatan, justru beralih fungsi menjadi alat kekerasan yang mematikan.
Sebagai representasi mahasiswa, kami melihat kejadian ini bukan sekadar ‘insiden lapangan’, melainkan alarm keras mengenai profesionalisme dan kendali emosi aparat di ruang publik.
Jika dalih penertiban balap liar menjadi dasar tindakan, kita patut bertanya, sejak kapan prosedur penertiban lalu lintas dilakukan dengan ayunan benda tumpul ke wajah pengendara yang sedang melaju?.
Kesaksian kakak dari korban bahwa mereka sedang melintas normal di jalan menurun menggunakan sepeda motor di ruas jalan sekitar RSUD Maren, Kota Tual, Maluku.
Baca juga: Ketika Presiden Sentil Reklame ‘Ayam Goreng’
NA menuruni bersama AT berkendara usai berputar arah dari sekitar rumah sakit.
Di waktu bersamaan, disebut-sebut ada kendaraan lain yang melaju kencang dan diduga terlibat balap liar.
NA sudah tegas mengatakan mereka tidak ikut balap liar dan menjelaskan laju motor dipengaruhi kondisi turunan.
“Kami jalan sendiri. Dari arah rumah sakit Maren kami putar balik. Memang posisi turunan jadi motor agak laju. Adik sudah bilang ada polisi di depan”, begitu kalimat sang kakak NA.
| Pertamax Naik, Pukulan Telak Bagi Masyarakat Kelas Menengah |
|
|---|
| Memahami Modus Operandi Begal via Teori Pilihan Rasional dan Aktivitas Rutin |
|
|---|
| Membaca Pikiran Anderiy Syachrum: Kejutan Gerbong Baru, Kabinet Ramping, dan Formula Menuju PON 2028 |
|
|---|
| Benalu di Balik Jubah Suci |
|
|---|
| Koperasi Merah Putih: Jangan Terjebak pada Gedung, Bangunlah Ekosistemnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260224_Muhammad-Apriransa-Ketua-Umum-Senat-Mahasiswa-FEB-Universitas-17-Agustus-Samarinda.jpg)