Jumat, 12 Juni 2026

OPINI

Helm yang Melindungi, Bukan Menghakimi: Refleksi Atas Tragedi di Tual

Kembali terjadi lagi kita di buat cemas lantaran hilangnya nyawa seorang pelajar di tangan oknum aparat

Tayang: | Diperbarui:
HO//Muhammad Apriransa
KETUA UMUM - Muhammad Apriransa, Ketua Umum Senat Mahasiswa FEB Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda. (HO) 

Oleh: Muhammad Apriransa, Ketua Umum Senat Mahasiswa FEB Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda

TRIBUNKALTIM.CO - Kembali terjadi lagi kita di buat cemas lantaran hilangnya nyawa seorang pelajar di tangan oknum aparat. 

Tragedi menimpa AT (14) dan NA (15), yang saat itu keduanya masih mengenakan seragam sekolah, tepatnya pada Kamis (19/2/2026) lalu.

Mereka kakak beradik yang masih duduk di kelas IX di salah satu madrasah Islam negeri setingkat SMP di Kota Tual, Maluku.

Sang adik, AT siswa MTSN Tual, Maluku, meninggal dunia setelah diduga dianiaya dengan ayunan helm milik anggota Brimob.

Pelaku adalah Bripda Masias Siahaya atau berinisial MS yang bertugas sebagai Anggota Kompi 1 Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Maluku.

Baca juga: Satu Tahun Kepemimpinan Rudy Masud - Seno Aji: Menakar “Gratispol” 

Oknum Brimob Bripda MS menjadi potret buram penegakan hukum di Indonesia, yang kembali terpaksa harus berulang.

Helm, yang secara filosofis dan fungsional adalah benda pelindung keselamatan, justru beralih fungsi menjadi alat kekerasan yang mematikan.

Sebagai representasi mahasiswa, kami melihat kejadian ini bukan sekadar ‘insiden lapangan’, melainkan alarm keras mengenai profesionalisme dan kendali emosi aparat di ruang publik.

Jika dalih penertiban balap liar menjadi dasar tindakan, kita patut bertanya, sejak kapan prosedur penertiban lalu lintas dilakukan dengan ayunan benda tumpul ke wajah pengendara yang sedang melaju?.

Kesaksian kakak dari korban bahwa mereka sedang melintas normal di jalan menurun menggunakan sepeda motor di ruas jalan sekitar RSUD Maren, Kota Tual, Maluku.

Baca juga: Ketika Presiden Sentil Reklame ‘Ayam Goreng’

NA menuruni bersama AT berkendara usai berputar arah dari sekitar rumah sakit.

Di waktu bersamaan, disebut-sebut ada kendaraan lain yang melaju kencang dan diduga terlibat balap liar.

NA sudah tegas mengatakan mereka tidak ikut balap liar dan menjelaskan laju motor dipengaruhi kondisi turunan.

“Kami jalan sendiri. Dari arah rumah sakit Maren kami putar balik. Memang posisi turunan jadi motor agak laju. Adik sudah bilang ada polisi di depan”, begitu kalimat sang kakak NA.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
2 - 0
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
2 - 1
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved