Opini
Komitmen Berbangsa dan Bernegara, Bangga jadi Warga Negara Asing?
Beberapa hari terakhir ini di jagad maya kita disuguhi berita viral, dan menjadi perdebatan para netizen.
Oleh: Dr. Drs. Moh. Jauhar Efendi, M.Si., CH.Ps., Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Kaltim. Mantan Camat Babulu dan Penajam, mantan Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Prov Kaltim, dan mantan Pjs. Bupati Kutai Timur.
Beberapa hari terakhir ini di jagad maya kita disuguhi berita viral, dan menjadi perdebatan para netizen.
Seorang Warga Negara Indonesia (WNI), Dewi Sasetyaningtyas (DS), di akun Instagramnya @sasetyaningtyas, mengunggah sebuah video, tengah membuka sebuah paket. Ia merasa sangat bangga, ketika dapat kiriman paket dari Inggris.
Katanya, ”paket ini bukan sembarang paket, tapi paket yang berisi dokumen yang penting banget yang menyangkut masa depan anak-anaknya”.
Pertama, paket tersebut berisi surat dari Home Office (Kementerian yang bertanggung jawab urusan dalam negeri, termasuk imigrasi, keamanan dan administrasi publik) Inggris, yang menyatakan kalau anaknya yang kedua sudah diterima resmi jadi warga negara Inggris.
Paket ini menurut Dewi sudah ditunggu-tunggu selama 4 (empat) bulan terakhir. Nampak sekali wajah bahagianya ketika membuka paket tersebut.
Kedua, paket tersebut berisi paspor anaknya yang kedua yang telah resmi menjadi ”British Citizen”.
Ia tunjukkan anaknya masih bayi yang belum tahu apa-apa. Lebih lanjut, ia berceloteh, ”cukup saya saja yang jadi WNI. Anak-anak saya jangan”.
Ia menganggap anaknya memiliki paspor kuat WNA.
Sampai di sini mungkin kita menganggap wajar saja seseorang memilih menjadi warga negara asing.
Tetapi perlu diingat, bahwa ternyata dia alumni LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan), Tahun 2017.
Maksudnya dia pernah kuliah di Luar Negeri (Belanda) dan memperoleh beasiswa dari Negara melalui LPDP.
Beasiswa itu sumbernya dari pajak rakyat seluruh Indonesia (baik yang memiliki kemampuan maupun yang tidak berkemampuan).
Data itu berasal dari penelusuran netizen. Netizen Indonesia sangat gercep (gerak cepat) jika menemukan informasi yang bisa memancing emosi.
Hanya saja kelemahan sebagian besar netizen cepat mengambil kesimpulan, tanpa menelusuri secara detail apa yang telah diperbuat oleh DS.
| Pertamax Naik, Pukulan Telak Bagi Masyarakat Kelas Menengah |
|
|---|
| Memahami Modus Operandi Begal via Teori Pilihan Rasional dan Aktivitas Rutin |
|
|---|
| Membaca Pikiran Anderiy Syachrum: Kejutan Gerbong Baru, Kabinet Ramping, dan Formula Menuju PON 2028 |
|
|---|
| Benalu di Balik Jubah Suci |
|
|---|
| Koperasi Merah Putih: Jangan Terjebak pada Gedung, Bangunlah Ekosistemnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/dr-moh-jauhar-efendi.jpg)