Ibu Kota Negara
Reaksi LBH Samarinda soal 9 Orang Ditangkap Polisi karena Polemik Pembangunan Bandara VVIP IKN
LBH Samarinda memberikan tanggapnnya soal 9 petani yang ditangkap polisi karena polemik pembangunan Bandara VVIP di Ibu Kota Nusantara.
Penulis: Rahmat Pratama | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Samarinda memberikan tanggapannya soal 9 petani yang ditangkap polisi karena polemik pembangunan Bandara VVIP di Ibu Kota Nusantara atau IKN Nusantara, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.
Sebagian orang ada yang masih kontra terhadap proses pembangunan VVIP IKN Nusantara di Penajam Paser Utara.
Kontan saja, sejurus kemudian tersiar kabar adanya penangkapan oleh pihak kepolisian.
Direktur LBH Samarinda, Fathul Huda Wiyashadi kepada TribunKaltim.co, mengatakan, saat ini masih diproses lebih lanjut mengenai kasus penangkapan para petani tersebut, Senin (26/2/2024) sore.
Dia paparkan, kala itu, sekitar pukul 20.19 Wita, Kelompok Tani Saloloang Penajam Paser Utara bersama sejumlah anggotanya sedang berkoordinasi, Sabtu 24 Februari 2024.
Baca juga: Kronologi Pekerja Proyek Bandara VVIP IKN Dapat Ancaman, Petani Klaim Ada Penggusuran Sepihak
Mereka membahas terkait adanya aktivitas penggusuran lahan, kebun dan ladang mereka yang dilakukan secara sepihak, membuat proyek pembangunan Bandara VVIP Ibu Kota Negara Nusantara atau IKN Nusantara.
"Untuk selanjutnya kita masih pendalaman. Tim kami masih bergerak mencari informasi tambahan. Secepatnya akan kami sampaikan," ucap Fathul Huda Wiyashadi di Samarinda.

Tentu saja dirinya berharap, pihak kepolisian yang melakukan penangkapan agar segera dicopot secara tidak terhormat dari jabatannya.
Mengingat penangkapan para petani tersebut tidak menggunakan surat resmi dan alasan yang tidak masuk akal.
Baca juga: Dampak IKN Nusantara, Nasib Warga PPU Terdampak Pembangunan Bandara VVIP, Pemerintah Beri Santunan
"Kalau kami berharap petani itu segera dibebaskanlah, karena tidak ada unsur pidana yang bisa diterapkan," tegas Fathul Huda Wiyashadi.
"Lagi duduk santai, tiba-tiba ditangkap, katanya bawa senjata tajam. Namanya petani bawa senjata tajam kan buat bersih- bersih," Fathul Huda Wiyashadi lagi.
Saat itu, diskusi polemik pembangunan Bandara VVIP IKN Nusantara tersebut diselenggarakan sembari makan malam bersama di Toko Benuo Taka milik Ibu Hanik.
Tiba-tiba terlihat Kapolsek Penajam melintas.
"Dengan alasan jalan-jalan saja," ujar Fathul Huda Wiyashadi menceritakan kronologinya.
Tidak lama berselang, sekitar tujuh mobil yang menurut kesaksian warga itu berasal dari Polda Kaltim.
Baca juga: Ganti Rugi Pembangunan Lahan Bandara VVIP IKN Nusantara Akan Dibayarkan Akhir Februari 2024
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.