Sabtu, 13 Juni 2026

Horizzon

Kado Kecil HUT ke-78 Korps Bhayangkara

Indikator Politik Indonesia menyebut bahwa tingkat kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian mengalami peningkatan signifikan setelah sempat...

Tayang:
Penulis: Ibnu Taufik Jr | Editor: Syaiful Syafar
DOK TRIBUNKALTIM.CO
Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim. 

Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim

SAYA tidak tahu atau lebih tepatnya tidak ingin lebih tahu apakah survei tingkat kepercayaan publik terhadap lembaga hukum dan politik yang dirilis Indikator Politik Indonesia pada awal 2024 lalu adalah survei paling anyar atau ada survei lain yang lebih baru.

Yang jelas, Indikator Politik Indonesia menyebut bahwa tingkat kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian mengalami peningkatan signifikan setelah sempat terpuruk akibat efek dari kasus Ferdy Sambo.

Dari survei yang dilakukan pada awal Januari 2024 ini, Indikator Politik menyebut bahwa Polri menempati urutan keempat di bawah TNI, Lembaga Presiden, dan Kejaksaan Agung.

Dalam survei nasional yang menggunakan metode multistage random sampling, dengan melibatkan sampel basis sebanyak 1.200 orang dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proposional ini ditemukan hasil 12 persen responden sangat percaya dengan institusi kepolisian, 63 persen cukup percaya, 21 persen kurang percaya, dan terakhir 2 persen responden mengaku sama sekali tidak percaya.

Peneliti utama Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menyebutkan, angka tersebut menjadi angin segar bagi kepolisian yang tingkat kepercayaannya sempat jatuh usai kasus Ferdy Sambo.

Ferdy Sambo

Mari kita buka catatan lama tentang kasus Ferdy Sambo yang terjadi pada pertengahan 2022 lalu.

Kasus ini muncul kira-kira sepekan usai Polri merayakan hari jadinya yang ke-76, atau tepatnya pada 8 Juli 2022.

Pada Jumat 8 Juli 2022, publik digemparkan dengan meninggalnya ajudan kesayangan Kadiv Propam Mabes Polri bernama Brigadir Novriansah Joshua Hutabarat.

Brigadir Joshua meninggal dengan luka tembak dan ditemukan di rumah dinas Irjend Ferdy Sambo.

Baca juga: Membaca Arah Pemikiran Rocky Gerung

Peristiwa terjadi pada hari Jumat dan kasus ini baru tersiar ke publik pada Senin 11 Juli 2022 atau tiga hari kemudian.

Kala itu yang tersiar adalah, Brigadir Joshua meninggal usai baku tembak dengan Bharada Richard Elieser, ajudan lain Ferdy Sambo.

Setelah tersiar ke publik, sejumlah spekulasi yang membingungkan publik bermunculan, mulai dari kasus perselingkuhan, rekening Joshua yang dirampas hingga akhirnya terungkap bahwa Joshua tewas di ujung pistol milik Eliezer di depan mata Ferdy Sambo.

Kembang-kembang kasus ini, atau lebih lugasnya adalah manipulasi dan rekayasa dalam kasus inilah yang membuat kepercayaan publik terhadap institusi Polri jatuh.

Kasus Sambo adalah titik nadir dari tak beresnya salah satu institusi penegak hukum di negeri ini.

Kasus Sambo juga menjadi kotak pandora yang menunjukkan bagaimana sesungguhnya institusi ini bekerja.

Kala itu semua berharap ini juga menjadi titik balik agar polisi belajar banyak dari kasus ini.

Baca juga: Satu Menit Empat Puluh Tujuh Detik

Harapan itu kembali luntur ketika belakangan kita kembali dihebohkan dengan kasus pembunuhan Vina yang belakangan berkembang liar dan kembali menunjukkan bagaimana institusi kepolisian belepotan, penuh kepura-puraan.

Kasus pembunuhan Vina menjadi liar dengan sejumlah spekulasi yang berkembang.

Kasus yang terjadi pada 2016 ini berkembang ke mana-mana, mulai dari rekayasa, terkait dengan kartel narkoba, dan rekayasa kasus yang hingga kini terus menjadi pergunjingan publik.

Sebagai orang yang tak memiliki kompetensi di bidang hukum apalagi penyidikan kasus kriminal, saya tak ingin memperkeruh kasus Vina dengan menambahkan spekulasi-spekulasi liar yang muncul di kepala saya.

Saya dan publik masih menyisakan kepercayaan bahwa bagi institusi sehebat polisi, mereka mampu dengan mudah mengungkap kasus kematian Vina.

Baca juga: Ketika Batu Bara Dengar Cerita tentang Derita Timah

Bagi kepolisian, mengungkap kasus Vina ini jauh lebih mudah dibanding mengungkap kasus Bom Bali I.

Kita tahu, saat mengungkap kasus Bom Bali I, polisi hanya mendapatkan petunjuk minim dari serpihan body colt box yang sudah hancur.

Kita ingat, kepolisian kita cukup canggih bin mumpuni dalam mengungkap tuntas siapa pelaku Bom Bali I yang akhirnya terungkap tuntas.

Saat itu, polisi harus menggunakan cairan khusus untuk mengungkap nomor rangka mobil yang digunakan oleh pelaku peledakan yang sudah hancur berkeping-keping.

Artinya, kita percaya kepolisian kita punya kemampuan untuk mengungkap kasus yang super sulit.

Kasus Vina, jika tidak bermaksud untuk melindungi atau menyelamatkan pihak-pihak tertentu, maka kasus pembunuhan Vina bisa diungkap dengan mudah.

Jika polisi tak bertahan pada kebohongan demi kebohongan yang memuakkan publik, kasus Vina yang sudah diungkap pada 2016 ini bisa diselesaikan oleh institusi yang dinahkodai oleh Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo ini.

Kita juga percaya, polisi sanggup mengungkap dengan terang benderang kasus kilometer 50, kasus wartawan Udin, dan kasus-kasus lain semacam 'perang dingin' dengan Kejaksaan Agung terkait korupsi timah berlabel Rp 271 triliun.

Baca juga: Sekuel Golf Car Rp271 T

Kita tidak ingin melihat upacara HUT ke-78 Korps Bhayangkara ini menjadi upacara tanpa tanpa makna.

Kita percaya, prajurit-prajurit Bhayangkara yang bertugas langsung melayani masyarakat tak semuanya memiliki reputasi buruk akibat perbuatan segelintir oknum yang memanfaatkan kewenangan mereka demi kepentingan pribadi.

Kita ingin melihat setiap upacara HUT Bhayangkara menjadi momentum kebanggan semua prajurit Bhayangkhara yang tulus menjadi pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.

Kita ingin semua prajurit Bhayangkara berjalan tegak dengan seragam membanggakan yang mereka kenakan.

Kita semua ingin publik memberikan hormat yang setinggi-tingginya pada polisi kita.

Baca juga: Benarkah Kaltim jadi Tuan Rumah IKN?

Di momen HUT ke-78 Polri ini, mari kita semua berharap Jenderal Listyo Sigit Prabowo, para pejabat utama di Mabes Polri, dan para Kapolda memiliki impian yang sama agar kita, Indonesia memiliki institusi kepolisian yang membanggakan.

Dirgahayu Kepolisian Republik Indonesia ke-78, banyak Pekerjaan Rumah yang harus segera dituntaskan.

Publik menunggu keseriusan Polri untuk berubah! Jika memang mau. (*)

Ikuti berita populer lainnya di Google News Tribun Kaltim

Ikuti berita populer lainnya di saluran WhatsApp Tribun Kaltim

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
VS
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved